Bunuh Diri Anak di Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara dalam Tiga Tahun Terakhir

Tiga tahun terakhir, lebih dari seratus anak kehilangan nyawa. Negara tidak boleh kalah cepat dari depresi generasi mudanya.


Editorial Indonesia news 

Indonesia menghadapi masalah serius dalam kesehatan mental anak. Bunuh diri anak tidak bisa lagi dianggap masalah pribadi. Dalam tiga tahun terakhir, kasusnya tinggi di berbagai daerah, menunjukkan lemahnya sistem perlindungan anak.

Data dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 46 kasus pada 2023, 43 kasus pada 2024, 26 kasus pada 2025, dan 3 kasus pada awal 2026, termasuk peristiwa terbaru di Kabupaten Demak. Angka ini menunjukkan bahwa pencegahan belum berjalan efektif.

Tekanan Mental Anak Semakin Berat

Anak-anak menghadapi tekanan sekolah, keluarga, perundungan, dan pengaruh media sosial. Banyak yang tidak mampu mengelola tekanan ini karena kurangnya pendampingan dan layanan psikologis.
Tanda-tanda depresi sering tidak terlihat. Tanpa sistem deteksi dini, risiko terus berulang.

Peran KPAI Harus Lebih Nyata

Sebagai lembaga negara independen yang dibiayai anggaran negara, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tidak cukup hanya mencatat data.
KPAI harus membuat peta risiko nasional, mendorong deteksi dini di sekolah, dan menyarankan kebijakan yang bisa dijalankan secara nyata. Koordinasi antara sekolah, keluarga, fasilitas kesehatan, dan pemerintah daerah harus dibangun agar pencegahan efektif.

Peran Pemerintah dan Masyarakat

Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar, sudah menyampaikan imbauan tentang penguatan perlindungan anak.
Langkah ini harus diikuti oleh seluruh elemen masyarakat yang peduli generasi muda. Setiap sekolah harus memiliki konselor profesional, sistem pelaporan risiko depresi anak, dan akses layanan kesehatan mental. Masalah anak adalah masalah masa depan bangsa, sehingga semua pihak pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat harus bergerak bersama.

Di tingkat daerah, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Demak, Zayinul Fatah, telah melakukan koordinasi lintas sektor untuk mendorong pendampingan bagi anak-anak di Kabupaten Demak.

Peristiwa duka yang baru saja terjadi di Kabupaten Demak tidak boleh terulang lagi, baik di Demak maupun di daerah lain di seluruh Indonesia.

Langkah ini harus diperkuat dan dicontoh oleh seluruh daerah sebagai strategi antisipasi, sekaligus didukung oleh kebijakan pemerintah pusat agar upaya ini merata dan berkelanjutan.

Kesehatan Mental Anak Harus Jadi Prioritas Nasional 2026

Tahun 2026 harus menjadi titik balik. Pemerintah perlu menetapkan target jelas, menyediakan anggaran khusus, melatih guru dalam deteksi dini, dan memperluas layanan psikologis.
Kesehatan mental anak adalah fondasi pembangunan generasi. Penanganan tepat hari ini menentukan kualitas generasi Indonesia di masa depan.(****)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

3 × 2 =