Saat Wanita cantik Mengadu Pada secyh Abdul Qodir Jaelani

 

Kajian Fenomena (WIL) Masyarakat Moderen

Kisah tentang Syekh Abdul Qodir Jaelani yang disebut pingsan saat didatangi wanita cantik sering beredar di majelis dan ruang publik. Cerita ini menyentuh rasa, namun perlu diluruskan agar tidak menyesatkan akal dan tradisi. Pelurusan ini penting demi menjaga kehormatan ilmu dan martabat manakib (penelusuran karya-karya autentik Syekh Abdul Qodir Jaelani).

Apa yang Diadukan Wanita Itu?

Dalam cerita lisan yang beredar, wanita tersebut mengadu bahwa ia setia kepada suaminya, menjaga kehormatan, dan menjalankan kewajiban rumah tangga. Namun suaminya tetap berselingkuh dan memiliki perempuan lain (narasi moral dalam tradisi lisan pesantren).

Ia datang dengan luka batin dan pertanyaan tentang keadilan serta kesetiaan. Ini adalah aduan tentang pengkhianatan, bukan tentang rupa atau godaan (cerita simbolik, bukan teks kitab).

Respon Syekh Abdul Qodir Jaelani dalam Cerita

Dalam versi simbolik, Syekh Abdul Qodir Jaelani digambarkan terdiam dan merenung. Beliau tidak marah, tidak terpancing emosi, melainkan menarik makna tauhid dari peristiwa itu (selaras dengan corak nasihat beliau dalam Futuh al-Ghaib).

Pesan yang disampaikan: jika manusia berani mengkhianati pasangan yang nyata di hadapan mata, bagaimana dengan Allah SWT yang tidak terlihat namun Maha Mengetahui (Al-Fath ar-Rabbani, tentang muraqabah dan takut kepada Allah).

Makna Simbolik “Pingsan”

Kata “pingsan” di sini tidak tepat dimaknai secara medis atau psikologis. Dalam tradisi lisan Jawa-pesantren, pingsan sering menjadi simbol guncangan batin atau renungan yang sangat dalam (kajian simbolisme dakwah lisan).

Secara substansi, ini menggambarkan kedalaman kesadaran moral, bukan kelemahan mental atau kehilangan kendali diri (Sirr al-Asrar, tentang tazkiyatun nafs).

Penegasan Kitabiah: Ada atau Tidak?

Perlu ditegaskan secara jujur. Kisah wanita cantik yang membuat Syekh Abdul Qodir Jaelani pingsan tidak ditemukan dalam karya-karya autentik beliau, seperti Al-Ghunya li Thalibi Thariq al-Haqq, Futuh al-Ghaib, Al-Fath ar-Rabbani, dan Sirr al-Asrar.

Kitab-kitab tersebut berisi ajaran tauhid, akhlak, dan pembersihan jiwa, bukan kisah dramatik seperti yang beredar di masyarakat (penelitian manuskrip karya Syekh Abdul Qodir Jaelani).

Akal Sehat dan Kematangan Jiwa Seorang Wali

Dalam ajaran beliau, nafsu adalah musuh yang harus ditundukkan, bukan penguasa jiwa. Orang yang mapan tauhid dan jiwanya stabil tidak mudah terguncang oleh rangsangan lahiriah (Futuh al-Ghaib, tentang mujahadatun nafs).

Dalam psikologi modern, ini disebut regulasi diri dan stabilitas emosi. Orang yang matang secara mental tidak mudah kaget, panik, atau “kagetan”.

Takdir Allah dan Sikap Jiwa yang Siap

Pengkhianatan manusia adalah bagian dari takdir Allah. Orang yang matang tauhidnya menerima takdir tanpa shock psikologis, meski pahit (Al-Fath ar-Rabbani, tentang ridha dan tawakal).

Karena itu, tidak masuk akal jika seorang wali besar mengalami pingsan karena cerita pengkhianatan.

Relevansi bagi Kehidupan Modern

Jika ditarik ke masa kini, kisah ini menyorot persoalan suami yang tidak puas meski telah memiliki pasangan sah. Masalahnya bukan istri kurang, tetapi hati yang tidak pernah cukup (psikologi relasi dan self-control).

Perselingkuhan sering berakar pada ego dan kebutuhan pengakuan, bukan pada kualitas pasangan (kajian psikologi relasi).

Dampak Mental Kehidupan Ganda

Hidup dengan kebohongan membuat jiwa lelah. Tekanan batin, rasa bersalah, dan kecemasan adalah dampak nyata dari kehidupan ganda (psikologi kesehatan mental).

Ketenangan tidak lahir dari banyaknya relasi, tetapi dari kejujuran dan tanggung jawab.

Manakib sebagai Anchoring Spiritual

Dalam tradisi pesantren, manakib berfungsi sebagai anchoring—pengikat batin kepada Allah SWT. Pembacaan manakib membawa jamaah ke kondisi tenang dan khusyuk (konsep anchoring dalam NLP—Neuro Linguistic Programming).

Secara neurologis, kondisi ini mirip gelombang otak alpha dan theta, yakni keadaan rileks, fokus ke dalam, dan mudah menerima nilai moral (neuroscience, mindfulness).

Meluruskan tanpa Menghilangkan Hikmah

Kisah wanita cantik dan pingsan tidak tercatat secara kitabiah. Namun sebagai simbol, ia mengajarkan nilai tauhid, amanah, dan kejujuran.

Manakib akan semakin bermakna jika dijaga dengan akal sehat, ilmu, dan adab. Spiritualitas sejati tidak membutuhkan sensasi ia membutuhkan kejujuran.

Amin Hidayat.,MPd.,CMH.,CI

Praktisi Hipnoterapi 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

11 − 7 =