50 Juta Ton Sampah Sehari” Anggaran Minim Krisis Pengelolaan Sampah Nasional
Volume Sampah Nasional: Hampir 50 juta ton per hari tersebar dari kota besar hingga daerah terpencil.
Editorial Indonesia news
1. Volume Sampah dan Ancaman Kota Besar
Indonesia menghadapi krisis sampah nyata dengan timbulan hampir 50 juta ton per hari, tersebar dari kota besar hingga wilayah terpencil. Jika tidak ditangani dengan serius, sampah akan berdampak pada kesehatan, kualitas hidup, dan keberlanjutan lingkungan.
Kota-kota besar menjadi penyumbang utama.
menghasilkan sekitar 7.500–8.000 ton per hari, dengan 37,33 % berasal dari rumah tangga. Bandung sekitar 1.500 ton per hari, 70 % dari rumah tangga. Surabaya 1.300–1.500 ton per hari, sementara Medan dan Denpasar termasuk penghasil sampah terbanyak.
Wilayah terpencil seperti Kepulauan Anambas, Tana Tidung, dan Waropen menghasilkan sampah paling sedikit, hanya beberapa ribu ton per tahun. Kesenjangan ini menunjukkan perlunya strategi pengelolaan berbasis kapasitas lokal dan distribusi timbulan sampah.
Secara nasional, sampah rumah tangga menyumbang sekitar 50,8 % dari total, sisanya berasal dari pasar, perkantoran, dan fasilitas publik. Fakta ini menegaskan pentingnya pengelolaan dari sumber, bukan hanya di tempat pembuangan akhir.
2. Anggaran, Strategi, dan Langkah Pemerintah
Dengan problematika sampah yang begitu besar, pemerintah hanya mengalokasikan Rp1,39 triliun melalui APBN 2026 untuk pengelolaan sampah nasional. Jumlah ini jelas sangat kecil, apalagi alokasi sekitar Rp70 miliar untuk kota-kota besar seperti Jakarta dan Surabaya, yang menjadi penyumbang timbulan sampah terbanyak, masih jauh dari cukup.
Langkah strategis yang sudah dilakukan meliputi pembangunan Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R), Tempat Pemrosesan Akhir Terpadu (TPST), serta Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) untuk mengubah sampah menjadi energi bersih. Teknologi tambahan seperti mesin pencacah organik, mesin press, dan komposter mulai diterapkan di pasar, sekolah, dan kawasan padat penduduk.
Program edukasi publik dan bank sampah bertujuan agar sampah bernilai ekonomis dan mendorong perilaku memilah dari rumah. Kolaborasi pemerintah dengan sektor swasta, melalui skema Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), juga mulai diterapkan untuk memperluas infrastruktur tanpa membebani APBN.
Meski demikian, tantangan tetap besar. Banyak daerah belum memiliki fasilitas memadai, perilaku masyarakat belum sepenuhnya adaptif, dan implementasi teknologi belum merata. Sampah masih menumpuk di tempat pembuangan akhir, mengganggu lingkungan dan kesehatan masyarakat.
Pengelolaan sampah harus bersifat holistik dan preventif, dari rumah tangga hingga kota besar, dengan sinergi antara kebijakan, pendanaan, teknologi, dan perilaku masyarakat. Dengan pendekatan ini, sampah tidak hanya menjadi masalah, tetapi dapat menjadi sumber energi, nilai ekonomi, dan fondasi kualitas hidup yang lebih baik.
Penulis: Amin Hidayat
Aktivis Human Care Institut Jakarta
