Pembacaan Manakib dalam Perspektif Gelombang Otak, Neuroscience, dan Kesehatan Mental

Catatan:Komparasi Ilmiah Manaqib.

Di tengah tekanan hidup modern yang kian menghimpit batin, manusia mencari ketenangan dengan berbagai cara. Di pesantren dan lingkungan masyarakat Nahdliyin, ketenangan itu sejak lama dirawat melalui pembacaan manakib Syekh Abdul Qodir Jaelani.

Selama ini manakib dipahami sebagai ritual spiritual. Namun jika ditelaah lebih dalam, manakib juga menyimpan dimensi rasional yang selaras dengan ilmu gelombang otak, neuroscience, dan kesehatan mental.

Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menggeser manakib dari ruang sakralnya. Justru sebaliknya, ia menunjukkan bahwa tradisi pesantren bekerja sejalan dengan hukum-hukum psikologis manusia yang kini mulai dipahami oleh ilmu modern.

Manakib dan Dinamika Gelombang Otak

Ilmu saraf menjelaskan bahwa otak manusia bekerja dalam beberapa gelombang. Saat seseorang berada dalam tekanan, kecemasan, atau pikiran penuh beban, otak didominasi gelombang beta.

Gelombang beta adalah kondisi sadar aktif yang sering disertai ketegangan emosi. Pikiran bekerja keras, tubuh tegang, dan batin sulit tenang.

Ketika manakib dibaca dengan irama tenang, berulang, dan penuh penghayatan, otak perlahan berpindah ke gelombang alpha. Alpha adalah kondisi rileks sadar, saat napas melambat dan pikiran mulai jernih.

Dalam suasana manakib yang khusyuk dan berkelanjutan, sebagian jamaah dapat masuk ke gelombang theta. Theta adalah kondisi otak di antara sadar dan bawah sadar, di mana emosi terbuka dan ketenangan terasa mendalam.

Theta sering muncul dalam meditasi mendalam, hipnosis klinis, dan doa yang sangat khusyuk. Pada fase ini, keyakinan lebih mudah tertanam dan batin lebih reseptif.

Jamaah Manaqib syech Abdul Qodir Jaelani di Bawah Asuhan KH.Ruslan Hanafi dan pimpinan H.Zayinul Fata yang merupakan Ketua DPRD Kabupaten Demak memanjatkan Do’a agar Hajat tercapai bersama Ratusan Jama’ah.

Neuroscience,Mengapa Manakib Menenangkan

Neuroscience menjelaskan bahwa ketenangan mental sangat berkaitan dengan sistem saraf. Saat manusia tertekan, sistem saraf simpatik aktif dan memicu kegelisahan.

Sebaliknya, rasa aman dan tenang mengaktifkan sistem saraf parasimpatik. Sistem ini menurunkan hormon stres dan menstabilkan emosi.

Pembacaan manakib, dengan suara lembut, suasana aman, dan makna spiritual yang kuat, secara alami mengaktifkan sistem parasimpatik tersebut.

Inilah sebabnya banyak jamaah merasa lebih tenang, ringan, dan lapang setelah mengikuti manakib, meskipun tanpa teknik terapi formal.

Catatan Ilmiah Ringan: Ritme, Repetisi, dan Otak

Penelitian neuroscience menunjukkan bahwa ritme suara yang stabil dan repetitif mampu menenangkan aktivitas amigdala, bagian otak yang berkaitan dengan kecemasan dan rasa takut.

Narasi panjang yang bermakna juga membantu otak membangun rasa aman dan keterhubungan emosional.

Manakib memenuhi dua unsur ini sekaligus ritme bacaan yang konsisten dan kisah penuh makna spiritual.

Tanpa disadari, praktik ini menciptakan kondisi biologis yang mendukung ketenangan jiwa dan stabilitas emosi.

Manakib sebagai Mindfulness Spiritual

Dalam psikologi modern dikenal konsep mindfulness, yaitu kesadaran penuh pada saat ini tanpa menghakimi. Manakib pada hakikatnya adalah mindfulness berbasis spiritualitas Islam.

Saat manakib dibaca, perhatian jamaah terfokus pada bacaan dan maknanya. Pikiran duniawi dilepaskan secara perlahan.

Berbeda dengan mindfulness modern yang netral makna, manakib dipenuhi tauhid, dzikir, dan keteladanan wali Allah.

Karena itu, ketenangan yang dihasilkan tidak hanya menenangkan pikiran, tetapi juga menguatkan iman.

Anchoring dan Kekuatan Keyakinan

Dalam ilmu hipnosis dan Neuro-Linguistic Programming (NLP), dikenal konsep anchoring. NLP adalah pendekatan yang mempelajari hubungan sistem saraf, bahasa, dan pola perilaku manusia.

Anchoring adalah proses mengaitkan kondisi emosional tertentu dengan pemicu tertentu.

Manakib berfungsi sebagai anchoring spiritual yang sangat kuat. Bacaan, kisah Syekh Abdul Qodir Jaelani, dan suasana majelis memicu rasa aman dan kepasrahan kepada Allah SWT.

Keyakinan bahwa manakib adalah wasilah mendekatkan diri kepada Allah tertanam bukan hanya di pikiran sadar, tetapi juga di alam bawah sadar.

Iman, Keyakinan, dan Kesehatan Mental

Di titik inilah iman dan ilmu bertemu. Ketika keyakinan tertanam dalam kondisi mental yang tenang dan terbuka, ia menjadi sangat kuat.

Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT bahwa Dia sesuai dengan prasangka hamba-Nya.

Keyakinan yang baik melahirkan ketenangan, kesabaran, dan keteguhan menghadapi kehidupan.

Inilah fondasi kesehatan mental yang dibangun melalui spiritualitas, bukan paksaan.

Manakib sebagai Penyangga Jiwa Masyarakat

Dari sudut pandang kesehatan mental, manakib berfungsi sebagai ruang penyangga jiwa yang aman.

Ia tidak menstigma, tidak memaksa orang membuka luka batin, tetapi menguatkan melalui kebersamaan dan doa.

Tangisan yang muncul dalam majelis manakib adalah pelepasan emosi yang sehat.

Banyak jamaah merasa lebih ringan, lebih sabar, dan lebih kuat setelahnya.

Tradisi yang Terbuka untuk Semua

Bagi masyarakat yang belum terbiasa mengamalkan manakib, tradisi ini dapat dipahami sebagai jalan sederhana menuju ketenangan spiritual.

Manakib tidak menuntut kemampuan khusus, tidak memerlukan teori rumit, dan tidak bertentangan dengan nalar.

Di tengah zaman yang bising dan penuh tekanan, manakib menawarkan ruang sunyi yang menenteramkan. Ia adalah warisan pesantren yang relevan bagi semua lapisan masyarakat.

              Penulis:Amin Hidayat, MPd.,CI.

Praktisi Hipnoterapi & Instruktur

Indonesia Hypnosis Center (IHC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen + 1 =