Pertarungan Psikologi Legitimasi ” Siapa Berhak Mengatur Dunia ..?

Editorial Indonesia news 

Dunia hari ini tidak sedang menyaksikan perang senjata, melainkan perang persepsi. Pernyataan keras yang dikaitkan dengan Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, terhadap kebijakan Amerika Serikat merupakan bagian dari pertarungan yang lebih sunyi, namun jauh lebih menentukan: pertarungan psikologi legitimasi global. Terlepas dari belum adanya konfirmasi resmi, pesan tersebut telah bekerja efektif di ruang paling krusial geopolitik modern—benak dan kepercayaan komunitas internasional.

1. Perang Persepsi dalam Perebutan Kepercayaan Global

Selama puluhan tahun pasca-Perang Dunia II, Amerika Serikat memimpin dunia bukan semata karena kekuatan militernya, melainkan karena keyakinan luas bahwa aturan yang dijaganya bersifat sah dan adil. Legitimasi itu hidup bukan hanya dalam teks hukum, tetapi dalam psikologi kolektif negara-negara lain. Namun dalam dua dekade terakhir, unilateralisme, sanksi sepihak, tekanan ekonomi, dan politik koersif perlahan menggerus fondasi tersebut. Dunia mulai patuh bukan karena percaya, melainkan karena takut—dan di titik itulah legitimasi mulai runtuh.

China membaca perubahan ini dengan presisi strategis. Beijing tidak datang dengan ancaman terbuka, melainkan dengan narasi: multilateralisme, keadilan global, penderitaan warga sipil, dan penghormatan terhadap kedaulatan. Ini bukan sekadar bahasa moral, melainkan operasi persepsi global. Dalam dunia multipolar, pengaruh terbesar tidak lagi lahir dari kemampuan memaksa, tetapi dari kemampuan membentuk rasa keadilan dan keterlibatan.

2. Legitimasi sebagai Instrumen Kekuasaan Baru

Pertarungan antara Beijing dan Washington kini bergerak di wilayah sugesti. Amerika Serikat berupaya mempertahankan citra sebagai penjaga tatanan, sementara China menanamkan pertanyaan mendasar: apakah penjaga itu masih netral, atau justru telah menjadi pelanggar? Ketika keraguan ini tumbuh di benak banyak negara, kekuasaan pun berubah bentuk—dari dominasi keras menjadi pengaruh psikologis.

Ironisnya, kedua kekuatan besar sama-sama mengklaim berdiri di sisi hukum internasional. Namun dalam pertarungan psikologi legitimasi, hukum tidak lagi berbicara melalui pasal dan piagam, melainkan melalui siapa yang dipercaya menafsirkan dan menegakkannya. Di sinilah hukum berubah dari norma menjadi narasi, dan narasi menjadi senjata paling efektif dalam geopolitik abad ke-21.

3. Dunia Non-Blok di Tengah Medan Tempur Psikologi Global

Bagi negara-negara non-blok di Asia, Afrika, dan Timur Tengah, pertarungan ini bukan wacana abstrak. Mereka adalah sasaran utama. Setiap kerja sama ekonomi dan setiap sikap diplomatik merupakan pilihan psikologis: mengikuti kekuatan yang menekan atau mendekat kepada kekuatan yang menawarkan rasa keterlibatan dan pengakuan. Netralitas tidak lagi pasif; ia menjadi kalkulasi mental yang mahal dan penuh risiko.

Pada akhirnya, dunia tidak sedang mencari penguasa baru. Dunia sedang mencari penjaga yang dipercaya. Jika pertarungan psikologi legitimasi ini gagal melahirkan kepemimpinan yang kredibel, dunia tidak otomatis jatuh ke tangan satu kekuatan lain. Ia justru berisiko memasuki fase paling rapuh: tatanan tanpa wasit, di mana aturan kehilangan wibawa dan kekuatan bergerak lebih cepat daripada kepercayaan.

Dalam dunia seperti itu, kekacauan tidak selalu datang dengan suara keras. Ia hadir perlahan—melalui keraguan yang menyebar, hingga tak ada lagi aturan yang benar-benar ditaati.

“Kekuatan sejati abad ini bukan kemampuan memaksa, melainkan kemampuan dipercaya.

Penulis:

Amin Hidayat., MPd., CMH., CI.,

Praktisi Psikologi Politik Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

17 − 14 =