Ketakutan, Trauma, dan Ketergantungan

Analisis Psikologi Politik Negara-Negara Timur Tengah atas Seruan agar Iran Tidak Membalas Serangan Amerika

Editorial Indonesian News

Seruan negara-negara Timur Tengah agar Iran tidak membalas serangan Amerika Serikat bukanlah sikap netral, melainkan refleksi ketakutan kolektif kawasan. Trauma perang, kehancuran negara, dan intervensi asing masih membekas kuat dalam memori politik para elite regional.

Arab Saudi membawa trauma Perang Teluk 1991 dan tekanan pasca-9/11. Perlindungan Amerika dipandang sebagai penopang stabilitas rezim, sehingga konfrontasi dengan Washington dianggap risiko eksistensial.

Irak hidup dengan trauma invasi 2003 yang menghancurkan negara dan melahirkan perang saudara panjang. Setiap eskalasi regional dibaca sebagai ancaman langsung bagi negara yang belum pulih secara psikologis dan institusional.

Mesir menyimpan trauma kehilangan otonomi strategis sejak Camp David. Ketergantungan ekonomi dan legitimasi politik yang rapuh membuat elite Mesir memilih stabilitas semu ketimbang perlawanan terbuka.

Qatar dan Kuwait memiliki trauma kerentanan sebagai negara kecil. Pangkalan militer Amerika bukan hanya strategi pertahanan, tetapi jangkar psikologis bagi kelangsungan negara.

Uni Emirat Arab trauma terhadap ketidakpastian pasca-Arab Spring. Stabilitas ekonomi dan citra negara aman menjadi prioritas yang tidak boleh terguncang oleh perang besar.

Yordania hidup dengan trauma tekanan demografis dan gelombang pengungsi. Konflik regional selalu berarti risiko instabilitas internal yang sulit dikendalikan.

Oman membawa trauma eskalasi tak terkendali di kawasan. Netralitas adalah refleks bertahan hidup, bukan posisi ideologis.

Suriah adalah negara luka. Trauma perang saudara dan intervensi asing membuat konflik baru hanya berarti perpanjangan penderitaan nasional.

Dalam psikologi politik elite kawasan, Amerika dipersepsikan sebagai kekuatan jauh yang sulit ditekan. Iran, sebaliknya, adalah tetangga dekat yang jika bergerak akan menjadikan kawasan sebagai medan perang.

Karena itu, tekanan diarahkan bukan kepada sumber kekuatan, melainkan kepada aktor yang reaksinya paling ditakuti. Inilah akar ketidakadilan struktural ketika Iran diminta menahan diri, sementara Amerika tidak diminta berhenti menyerang.

Bagi Iran, permintaan tersebut tidak dibaca sebagai ajakan damai, melainkan sebagai keinginan agar Iran melemah atau hancur secara politik tanpa perlawanan.

Secara psikologi politik, Iran dibangun dengan identitas perlawanan. Diam bukan keselamatan, tetapi sinyal kelemahan yang mengundang kehancuran.

Secara ideologis, Republik Islam Iran lahir dari perlawanan terhadap dominasi asing. Patuh pada tekanan Amerika berarti meruntuhkan legitimasi ideologis negara di mata rakyatnya sendiri.

Trauma sejarah lintas generasi kudeta 1953, perang Iran–Irak, dan sanksi panjang membentuk keyakinan bahwa bertahan hanya mungkin dengan melawan.

Jika Amerika menyerang, Iran kemungkinan merespons dengan balasan militer terbatas namun simbolik terhadap aset Amerika di kawasan.

Jika serangan berskala besar, Iran berpotensi mengeskalasi konflik melalui jaringan proksi di Irak, Suriah, Lebanon, dan Yaman, serta operasi asimetris.

Jika Iran membalas, Amerika kemungkinan merespons dengan serangan balasan terbatas, peningkatan sanksi ekonomi, penguatan aliansi militer regional, serta operasi intelijen dan siber.

Secara paralel, Amerika akan mendorong jalur diplomasi de-eskalasi untuk mencegah konflik berubah menjadi perang regional terbuka.

Bagi Iran, serangan justru berpotensi memperkuat konsolidasi internal. Bagi Timur Tengah, risikonya adalah kehancuran stabilitas dan trauma lama yang terulang.

Bagi Amerika dan sekutunya, konflik terbuka berarti biaya ekonomi, politik, dan strategis yang tinggi tanpa jaminan kemenangan jelas.

Seruan agar Iran tidak membalas mencerminkan ketakutan kawasan yang belum pulih dari trauma masa lalu. Ia naif, timpang, dan hampir mustahil dipatuhi oleh negara yang menjadikan perlawanan sebagai fondasi eksistensinya.

Penulis:

Amin Hidayat, MPd, CMH, CI

Praktisi Psikologi Politik Global

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 1 =