Ketika Hegemon Berburu Tanah Hijau

Oleh: Boy Anugerah, S.I.P., M.Si., M.P.P.
Analis Kerja Sama Luar Negeri Lemhannas RI 2015–2017 & Tenaga Ahli Fraksi PKB DPR RI Periode 2024–2029

Editorial Indonesia news 
Upaya Amerika Serikat (AS) untuk menguasai Greenland menegaskan nilai strategis pulau di persimpangan Samudera Atlantik dan Laut Arktik. Dari pendekatan lunak berupa skema akuisisi, AS kini mengarah pada opsi keras melalui jalur militer. Langkah ini berpotensi memicu ketegangan dengan Kerajaan Denmark sebagai pengelola sah Greenland. Dalih pembendungan pengaruh Rusia dan Tiongkok digunakan sebagai justifikasi geopolitik.
Kebijakan luar negeri negara-negara hegemon—AS, Rusia, dan Tiongkok—tak terpisahkan dari kepentingan energi. Teori geopolitik klasik tentang dominasi darat dan laut bergeser menuju perebutan wilayah kaya sumber daya. Episentrum geopolitik global kini tertuju pada kawasan dengan cadangan energi dan mineral strategis. Dalam konteks ini, ambisi AS atas Greenland merupakan bagian dari perburuan energi global.

1. Greenland sebagai Episentrum Baru Perebutan Energi Global

Greenland memiliki nilai strategis berlapis. Pulau ini menyimpan mineral langka dan logam tanah jarang seperti uranium dan tantalum yang vital bagi industri modern dan pertahanan. Selain itu, terdapat potensi cadangan minyak dan gas bumi yang besar namun belum tereksplorasi optimal. Faktor ini menjadikan Greenland magnet kepentingan negara industri besar.
Di tengah menipisnya energi fosil dunia, pencarian sumber baru terus berlangsung. Ironisnya, transisi energi hijau kerap berhenti pada jargon. Perubahan iklim menambah dimensi baru karena dua pertiga air tawar dunia tersimpan di lapisan es Greenland. Nilai strategis ini semakin memperkuat posisi Greenland dalam peta geopolitik global.
Penguasaan Greenland juga berarti kontrol atas jalur perdagangan dan transportasi Arktik yang lebih singkat menuju Asia dan Eropa. Keunggulan ini memberi nilai tambah strategis yang signifikan. Greenland bukan sekadar wilayah geografis, melainkan simpul kepentingan global.
Ketergantungan AS terhadap energi fosil memperkuat dorongan ekspansinya. Data US Energy Information Administration (EIA) menunjukkan sekitar 90 persen bauran energi utama AS masih didominasi energi fosil. Kebutuhan sektor industri dan transportasi terus meningkat. Cadangan domestik tak lagi memadai.

2. Rivalitas Hegemon dan Ancaman Eskalasi Konflik Internasional

Dalam perebutan logam tanah jarang, AS tertinggal dari Tiongkok yang menguasai sekitar 70 persen produksi tambang dunia dan 90 persen hasil olahannya. Ketimpangan ini mendorong rivalitas terbuka antara kedua negara. AS membatasi akses teknologi canggih bagi perusahaan Tiongkok, sementara Beijing membalas dengan pengetatan ekspor logam langka. Sejak Desember 2025, ekspor produk berbasis logam tanah jarang asal Tiongkok wajib mengantongi izin.
Dalam kerangka ini, Greenland dipandang AS—khususnya di bawah Donald Trump—sebagai solusi strategis. Penguasaan mineral dan migas Greenland dinilai mampu menopang industrialisasi AS sekaligus menahan laju ekspansi Tiongkok melalui Jalur Sutra darat dan laut. Secara geopolitik, Greenland berfungsi sebagai instrumen penyeimbang kekuatan global.
Namun, ambisi tersebut sarat risiko. Denmark hampir pasti mempertahankan Greenland, dan konflik ini berpotensi meretakkan soliditas NATO. Penolakan masyarakat lokal Greenland serta resistensi Eropa juga sulit dihindari. Jika agresivitas geopolitik ini terus dipaksakan tanpa diplomasi matang, eskalasi konflik global kian nyata. Dalam skenario terburuk, dunia kembali berada di ambang perang besar antarhegemon.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine + 4 =