Tamu Dunia Goyah”

Analisis: Rasa Aman Psikologis dan Tantangan Tuan Rumah di Ajang Global FIFA 2026


Editorial Indonesia news 

Laporan yang beredar di kalangan industri perhotelan dan perjalanan menunjukkan adanya sekitar 38.000 pembatalan pemesanan hotel dan tiket perjalanan yang dikaitkan dengan Piala Dunia FIFA 2026 di Amerika Serikat.

Pembatalan ini terjadi jauh sebelum turnamen dimulai.

Fenomena ini tidak bisa dibaca hanya sebagai persoalan teknis.

Isu keamanan, visa, harga, dan kepastian perjalanan menjadi alasan utama.

Meski belum ada konfirmasi resmi dari FIFA, angka tersebut cukup besar untuk dibaca sebagai sinyal kegelisahan publik global.

1. Psikologi Ketidakpastian dalam Keputusan Membatalkan Perjalanan

Piala Dunia FIFA 2026 dijadwalkan berlangsung pada 11 Juni hingga 19 Juli 2026.

Turnamen diselenggarakan bersama oleh Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Dalam psikologi, fenomena ini dapat dijelaskan dengan loss aversion, yaitu kecenderungan manusia lebih takut rugi daripada mengejar keuntungan.

Ketika muncul ketidakpastian soal visa, keamanan, dan biaya, otak lebih memilih menghindari risiko.

Membatalkan perjalanan kemudian dipandang sebagai pilihan paling aman.

Dalam Neuro-Linguistic Programming atau NLP—ilmu yang mempelajari hubungan bahasa, pikiran, dan perilaku narasi publik sangat berpengaruh.

Kata-kata seperti “ketat”, “mahal”, dan “rawan” membentuk gambaran negatif tentang perjalanan di masa yang akan di jalani.

Otak membayangkan skenario terburuk, meski belum tentu terjadi.

Sementara dalam hipnoterapi modern dikenal istilah avoidance behavior, yaitu perilaku menghindar untuk meredakan tekanan mental.

Paparan informasi berulang membuat masyarakat masuk kondisi sugesti ringan.

Rasa tidak nyaman terasa lebih nyata daripada data faktual.

Keputusan diambil bukan berdasarkan pengalaman langsung, tetapi bayangan yang terbentuk di pikiran.

2. Implikasi Ekonomi dan Politik di Dalam Negeri Tuan Rumah

Ketidakpastian yang dirasakan calon pengunjung berpotensi berdampak pada ekonomi dan politik tuan rumah.

Sektor perhotelan, transportasi, dan usaha kecil di kota penyelenggara sangat bergantung pada kedatangan wisatawan internasional.

Pembatalan masif bisa menimbulkan tekanan ekonomi lokal jauh sebelum turnamen dimulai.

Kondisi ini juga bisa memicu keresahan di tingkat pemerintah daerah.

Dari sisi politik domestik, situasi ini dapat memperkuat perdebatan soal kebijakan keamanan, imigrasi, dan keterbukaan terhadap dunia luar.

Dalam psikologi politik, hal ini dikenal sebagai perceived threat, yaitu ancaman yang dirasakan meski belum tentu nyata.

Ketika publik merasa tidak aman atau tidak disambut, kepercayaan terhadap kemampuan negara mengelola ajang internasional bisa melemah.

Dampaknya tidak hanya ekonomi, tetapi juga citra politik tuan rumah.

Fenomena ini menegaskan bahwa ajang olahraga global bukan sekadar stadion dan pertandingan.

Rasa aman dan kepercayaan menjadi faktor penting.

Jika ketidakpastian dibiarkan tanpa komunikasi menenangkan, efeknya bisa menjalar ke stabilitas ekonomi dan politik.

Gelombang pembatalan ini seharusnya dibaca sebagai peringatan dini yang perlu dikelola dengan pendekatan manusiawi dan psikologis.


Penulis:

Amin Hidayat., MPd.,CI.,

Praktisi Psikologi Sosial Politik dan Hipnoterapi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − nine =