Cinta, Dopamin, dan Otak yang Ketagihan Drama
editorial Indonesia News
Ketika Tenang Terasa Aneh dan Ribut Terasa Hidup
Ada keanehan yang makin jamak dalam relasi modern hubungan yang tenang sering dianggap membosankan, sementara hubungan yang bikin deg-degan, overthinking, dan susah tidur justru disebut penuh makna. Padahal yang satu menenangkan, yang satu melelahkan.
Namun entah kenapa, yang melelahkan justru dirindukan.
Masalahnya bukan kurang cinta. Masalahnya, otak manusia modern sudah terlalu lama hidup dari ketegangan.
Dalam psikologi, ada satu zat kimia yang sering disalahpahami: dopamin. Ia bukan hormon bahagia, melainkan hormon antisipasi—aktif saat menunggu, menebak, dan berharap.
Karena itu, pesan yang dibalas lama terasa lebih “bernilai” daripada pesan yang konsisten. Yang tarik-ulur terasa lebih menggoda daripada yang jelas arahnya. Bukan karena cintanya lebih dalam, tapi karena dopaminnya sedang bekerja keras.
Di sinilah drama mulai terasa seperti kebutuhan. Hubungan yang stabil memberi rasa aman, tetapi bagi otak yang pernah terluka, aman justru terasa asing. Dalam hipnoterapi, kondisi ini dikenal sebagai kecenderungan memilih rasa sakit yang familiar dibanding ketenangan yang belum dikenal.
Singkatnya, otak tidak mencari yang sehat, melainkan yang terasa seperti rumah—meski rumah itu bocor dan berisik.
Budaya digital memperparah keadaan. Notifikasi, pesan dibaca tanpa balasan, lalu muncul lagi dengan sapaan manis, membuat emosi naik-turun seperti wahana. Relasi pun ikut berubah: cepat dekat, cepat intens, lalu cepat lelah.
Bukan karena manusia makin dangkal, tetapi karena otak dibiasakan hidup di mode cepat dan tegang.
Ketika capek, banyak orang menertawakan cinta, menyindir pernikahan, dan menganggap komitmen sebagai jebakan.
Terlihat santai dan dewasa, padahal sering kali itu hanya cara aman untuk tidak berkata jujur: “Aku lelah, tapi belum berani sembuh.” Dalam terapi, humor semacam ini dikenal sebagai mekanisme pertahanan—tertawa agar tidak perlu menyentuh luka.
Hipnoterapi tidak menghapus masa lalu, tetapi mengubah asosiasi emosional di alam bawah sadar: bahwa cinta tidak harus selalu ribut agar terasa hidup. Stabil bukan ancaman.
Tenang bukan tanda kurang cinta. Di titik ini, banyak orang baru sadar—selama ini mereka bukan takut mencinta, tetapi takut kehilangan drama.
Cinta yang dewasa jarang berisik.
Tidak viral. Tidak membuat jantung meloncat tiap menit. Ia datang konsisten, kadang terasa biasa saja, tapi justru itulah tandanya: ia tidak menguras, melainkan menenangkan.
Dan bagi banyak orang, ketenangan itulah tantangan terbesar—karena terlalu lama disangka membosankan, padahal sebenarnya menyembuhkan.
Penulis:
Amin Hidayat,MPd.,CMH.,CI.,
Praktisi Hipnoterapi
Indonesia Hypnosis Center (IHC)
