Dari Sejarah Majapahit ke Dunia Kerja dan Kekuasaan Hari Ini

“Pengkhianatan tidak lahir dari orang jahat, tetapi dari orang setia yang kehilangan alasan untuk tetap setia.”

Editorial Indonesia news 

Di mana pun kekuasaan berada di partai politik, di negara, di kantor profesional, di organisasi sosial, bahkan di ruang kerja yang tampak paling modern pengkhianatan selalu muncul dengan pola yang sama bukan dari mereka yang ribut menentang, tetapi dari mereka yang paling lama diam dan paling dipercaya.

Ia lahir bukan dari ambisi yang meledak-ledak, melainkan dari luka yang dipendam terlalu lama. Dan sering kali, ketika pengkhianatan itu terjadi, semua orang terkejut padahal tanda-tandanya sudah lama ada.

Sejarah Majapahit memberi kita cermin yang jujur tentang hal ini. Tragedi Prabu Jayanegara dan Raden Tanca bukan sekadar kisah pembunuhan raja oleh tabibnya, tetapi pelajaran keras tentang psikologi kesetiaan yang runtuh ketika martabat manusia dilanggar oleh kekuasaan. Apa yang terjadi berabad-abad lalu itu, hari ini hadir kembali dalam bentuk yang lebih halus, lebih rapi, dan lebih sulit dikenali.

1. Kesetiaan Tidak Mati oleh Ambisi, tetapi Dibunuh oleh Penghinaan

Kesalahan paling umum dalam membaca pengkhianatan adalah menuduhnya sebagai hasil ambisi. Padahal, dalam banyak peristiwa besar, pengkhianatan justru lahir dari kesetiaan yang dikhianati lebih dulu.
Raden Tanca bukan musuh politik Jayanegara.

Ia adalah orang dalam, orang dekat, dan orang yang dipercaya penuh. Namun ketika kekuasaan dijalankan tanpa batas etika hingga menyentuh wilayah paling pribadi dari martabat manusia yang hancur bukan sekadar relasi kerja, melainkan ikatan batin.
Kekuasaan sering lupa satu fakta sederhana orang bisa bertahan dalam ketidakadilan, tetapi sulit bertahan dalam penghinaan.
Saat harga diri diinjak dan tidak dipulihkan, kesetiaan berubah menjadi beban yang perlahan membusuk.

2. NLP: Saat Identitas Retak, Pengkhianatan Menjadi Masuk Akal

Dalam perspektif Neuro-Linguistic Programming (NLP), pengkhianatan tidak muncul tiba-tiba. Ia diawali oleh pergeseran identitas batin. Seseorang tidak lagi melihat dirinya sebagai bagian bermakna dari sistem, melainkan sebagai korban dari sistem itu sendiri.

Raden Tanca tetap bekerja, tetap patuh, dan tetap menjalankan perannya. Namun di dalam dirinya, terjadi perubahan besar dari merasa dihargai, menjadi merasa direndahkan. Ketika identitas berubah, nilai ikut runtuh. Dalam kondisi ini, tindakan ekstrem tidak lagi terasa salah, karena sudah terasa logis secara psikologis.
Inilah fase paling berbahaya dalam organisasi mana pun: saat seseorang masih hadir secara fisik, tetapi sudah pergi secara batin.

3. Psikologi Politik Pengkhianatan Selalu Datang dari Lingkar Dalam

Sejarah kekuasaan menunjukkan satu pola yang konsisten: pengkhianatan hampir tidak pernah datang dari orang luar. Ia datang dari orang yang diberi kepercayaan, yang memiliki akses, dan yang memahami titik paling rapuh dari sistem.
Psikologi politik menyebutnya silent defection—pengkhianatan tanpa teriakan, tanpa ancaman, tanpa perlawanan terbuka. Ia terjadi ketika pemimpin kehilangan legitimasi moral, bukan sekadar legitimasi jabatan.
Saat pemimpin tidak lagi dipersepsi sebagai figur etis, kesetiaan berubah menjadi formalitas.

Dan formalitas tidak memiliki daya tahan emosional. Pada titik ini, pengkhianatan sering kali dirasakan bukan sebagai kejahatan, melainkan sebagai pembenaran.

4. Karakter Nusantara: Setia, Sabar, dan Menghukum dalam Diam

Karakter Nusantara dikenal setia, sabar, dan enggan konflik terbuka. Namun kesetiaan ini bukan kesetiaan buta. Ia memiliki batas yang jelas, meski jarang diucapkan: martabat harus dijaga.
Jika batas itu dilanggar, perlawanan jarang muncul secara frontal.

Ia muncul dalam bentuk yang sunyi, personal, dan sering kali menentukan. Sejarah Majapahit mengajarkan bahwa ketika pemimpin kehilangan laku etis, koreksi tidak selalu datang dari lawan terbuka, tetapi justru dari orang-orang terdekatnya.

5. Dunia Kerja dan Kekuasaan Hari Ini: Pola yang Terus Berulang

Di zaman modern, raja berubah menjadi bos, istana menjadi kantor, dan tabib menjadi orang kepercayaan. Namun psikologi relasinya tetap sama. Banyak pengkhianatan hari ini dilakukan bukan oleh mereka yang bermasalah, tetapi oleh mereka yang lama bertahan, lama diam, dan lama memendam luka.

Pengkhianatan, dalam konteks ini, bukan sekadar kesalahan individu. Ia sering kali adalah alarm keras dari kepemimpinan yang gagal menjaga martabat manusia.

Ulasan
Kisah Jayanegara dan Raden Tanca menegaskan satu pelajaran penting: kesetiaan tidak bisa dipaksa oleh kekuasaan, dan tidak bisa dijaga oleh ketakutan. Ia hanya bertahan jika ditopang oleh etika, rasa adil, dan penghormatan terhadap martabat manusia.
Sejarah Majapahit bukan cerita lama yang selesai dibaca. Ia adalah cermin yang terus kita hadapi di kantor, di organisasi, dan di ruang kekuasaan hari ini.
Penulis:
Amin Hidayat.,MPd.,CMH.,CI.,
Praktisi Psikologi Politik dan Hipnoterapi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × three =