Fenomena “AKU, AKU, AKU”

Editorial Indonesia news 

Dalam percakapan sehari-hari, kita kerap menjumpai orang yang berulang kali menegaskan perannya: aku yang paling dipercaya, aku yang menyelesaikan pekerjaan itu, tanpa aku semua tidak akan berjalan. Bagi sebagian orang, pola ini terasa mengganggu dan sering dilabeli sebagai sikap egois. Namun, benarkah demikian?

BUKAN PENYAKIT JIWA, MELAINKAN PENCARIAN VALIDASI

Dari perspektif psikologi modern, pola “aku, aku, aku” bukanlah penyakit jiwa. Selama fungsi sosial dan profesional seseorang tetap berjalan, perilaku ini tidak masuk kategori gangguan mental. Ia lebih tepat dipahami sebagai validation seeking behavior, yaitu kebutuhan akan pengakuan eksternal untuk menopang harga diri.

Kebutuhan validasi yang kuat sering berakar pada pengalaman lama: kerja keras yang jarang diapresiasi, prestasi yang dianggap biasa, atau perasaan tidak pernah cukup di mata lingkungan. Dalam kondisi seperti ini, seseorang belajar bahwa jika ia tidak menyebutkan perannya sendiri, ia takut tidak dianggap ada.

Kesalahan yang kerap terjadi adalah langsung menyangkal ekspresi ini dengan nasihat normatif. Padahal, emosi tidak membutuhkan sanggahan, melainkan pengakuan. Validasi bukan berarti membenarkan perilaku, tetapi mengakui bahwa perasaan itu nyata.

STOIKISME DAN HIPNOTERAPI: KETIKA NILAI DIRI BERGANTUNG KE LUAR

Dalam pandangan Stoikisme, penderitaan batin muncul ketika nilai diri digantungkan pada hal di luar kendali, terutama penilaian orang lain. Orang yang terus mencari pengakuan bukanlah orang sakit, melainkan orang yang belum stabil secara batin.

Hipnoterapi membaca pola ini sebagai suara inner child yang belum pernah benar-benar diakui. Di balik pengulangan kata “aku”, sering tersembunyi pesan bawah sadar: tolong lihat aku, tolong hargai keberadaanku. Menariknya, ketika seseorang merasa diterima secara emosional, kebutuhan untuk membuktikan diri justru menurun dengan sendirinya.

JALALUDDIN AR-RUMI: KERINDUAN JIWA YANG SALAH ALAMAT

Jalaluddin Ar-Rumi memberi kedalaman makna yang lebih batiniah. Menurutnya, kegelisahan mencari pengakuan manusia bukanlah kesalahan moral, melainkan kerinduan jiwa yang salah alamat. Pengakuan manusia tidak pernah benar-benar mengenyangkan, karena yang dicari sesungguhnya adalah rasa diterima secara utuh.

Ketika seseorang kembali terhubung dengan makna batinnya, ia tidak lagi sibuk menjelaskan perannya. Ia bekerja, berkontribusi, dan hadir dengan tenang, tanpa perlu diumumkan. Di titik ini, psikologi modern, Stoikisme, hipnoterapi, dan sufisme Rumi bertemu pada satu kesimpulan: orang yang terlalu sering berkata “aku” bukan sedang membesarkan diri, melainkan sedang mencari tempat untuk berlabuh.

PENULIS

Amin Hidayat, MPD, CMH, CI.,

Praktisi Psikologi Politik Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

1 × two =