Iran dalam Kepungan Psikologi dan Geopolitik Dunia

Demonstrasi rakyat, tudingan Amerika, dan panggung PBB memperlihatkan satu kenyataan krisis Iran bukan sekadar gejolak domestik, melainkan pertarungan narasi dan legitimasi di tengah tekanan global.

Editorial Indonesia news 

Ketika demonstrasi pertama kali meletus di Iran pada 28 Desember 2025, dunia mungkin melihatnya sebagai krisis ekonomi biasa. Namun ketika jalanan memanas, internet diputus, dan Amerika Serikat dilaporkan ke PBB, jelaslah bahwa Iran sedang berada dalam kepungan yang jauh lebih kompleks—kepungan psikologis kekuasaan dan tarik-menarik geopolitik dunia.

Demonstrasi ini berawal dari tekanan ekonomi yang nyata: nilai mata uang rial anjlok, harga kebutuhan pokok melonjak, dan daya beli rakyat runtuh. Dalam kondisi seperti ini, sejarah Iran kembali berulang. Setiap kali beban hidup rakyat mencapai titik kritis, jalanan menjadi ruang ekspresi terakhir. Ini bukan skenario asing, melainkan refleksi masalah internal yang telah lama menumpuk.

Timeline Singkat Gejolak Iran

28 Desember 2025

Demonstrasi awal meletus, dipicu anjloknya nilai rial dan melonjaknya harga kebutuhan pokok.

Akhir Desember 2025

Aksi meluas ke berbagai kota besar, melibatkan pedagang, pekerja, dan kelas menengah perkotaan.

Awal Januari 2026

Demonstrasi berkembang menjadi gelombang nasional dengan tuntutan yang meluas, dari ekonomi hingga politik.

8 Januari 2026

Pemerintah Iran memutus dan membatasi akses internet secara luas untuk menekan koordinasi dan arus informasi.

Pertengahan Januari 2026

Iran secara resmi membawa tuduhan campur tangan Amerika Serikat ke forum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

“Ketika ekonomi runtuh dan kepercayaan publik menghilang, kekuasaan tak hanya bertahan dengan aparat, tetapi dengan mengelola ketakutan, harapan, dan musuh imajiner.”

Namun respons negara tidak berhenti pada pengendalian domestik. Tuduhan campur tangan Amerika Serikat segera dilemparkan, lalu dibawa ke PBB. Langkah ini bukan sekadar diplomasi, melainkan strategi psikologis kekuasaan menciptakan musuh eksternal untuk meredam tekanan internal. Dalam politik global, narasi sering kali sama pentingnya dengan fakta.

Amerika Serikat sendiri berada dalam posisi ambigu. Dukungan diplomatik terhadap hak berekspresi rakyat Iran dan kritik terhadap tindakan represif rezim membuat Washington tampak ikut bermain. Tetapi antara memanfaatkan momentum dan menjadi dalang adalah dua hal yang berbeda. Hingga kini, tidak ada bukti kuat bahwa protes rakyat Iran dikendalikan dari luar. Akar persoalan tetap bersumber dari dalam negeri Iran sendiri.

PBB, dalam konteks ini, lebih menyerupai panggung simbolik ketimbang palu keadilan. Dengan hak veto Amerika di Dewan Keamanan, laporan Iran hampir mustahil berujung pada sanksi nyata. Namun tujuan utamanya bukan itu. Yang dipertaruhkan adalah persepsi global—siapa yang dianggap penekan dan siapa yang diposisikan sebagai korban—di tengah pertarungan legitimasi kekuasaan.

Krisis Iran hari ini memberi pelajaran penting bagi dunia narasi bisa menunda, diplomasi bisa mengulur, tetapi realitas hidup rakyat pada akhirnya menuntut jawaban yang tak bisa dihindari. Di situlah psikologi kekuasaan diuji, dan geopolitik dunia ikut bereaksi.*

 

Penulis:

Amin Hidayat.,MPd.,CMH.,CI.,

Ketua Presidium Nasional Pergerakan Santri Ahlusunah Wal Jama’ah Indonesia (PSAJI)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

20 − 8 =