Kegelisahan yang Disembunyikan

Membedah Pemikiran Al-Ghazali tentang Kesehatan Mental Manusia Modern
Oleh :Amin Hidayat.,MPd.,CI.

Praktisi dan Instruktur Hipnoterapi Indonesia Hypnosis Center (IHC)

Di balik wajah manusia modern yang tampak sibuk, produktif, dan penuh pencapaian, tersembunyi kegelisahan yang jarang diakui. Banyak orang terlihat tenang di luar, tetapi rapuh di dalam. Data global menunjukkan gangguan kesehatan mental meningkat tajam. Kecemasan, kehampaan makna, kelelahan batin, dan krisis identitas menjadi fenomena lintas usia, lintas profesi, dan lintas kelas sosial.

Imam Al-Ghazali, seorang pemikir besar abad ke sebelas, sesungguhnya telah lama membaca gejala ini, jauh sebelum istilah kesehatan mental dikenal dunia modern. Melalui karya-karyanya, Al-Ghazali tidak berbicara tentang jiwa secara teoritis semata, tetapi membedahnya dari dalam, dari pengalaman batin, konflik nilai, hingga kepalsuan diri yang sering tersembunyi di balik kesalehan, kecerdasan, dan status sosial.

Dalam Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali menegaskan bahwa pusat persoalan manusia bukan terletak pada kurangnya pengetahuan, melainkan pada hati yang kehilangan arah. Hati dalam pengertian qalb bukan sekadar organ spiritual, tetapi pusat kesadaran batin, tempat niat, makna, dan rasa aman eksistensial bersemayam. Ketika hati sakit, maka akal bisa menjadi pembenaran, bukan penuntun. Seseorang dapat berbicara bijak, tetapi hidup dalam kegelisahan. Ia tampak saleh, tetapi mudah marah. Ia terlihat tenang, tetapi jiwanya penuh ketakutan akan kehilangan pengakuan.
Al-Ghazali mengurai penyakit-penyakit batin yang hari ini sangat relevan dengan kehidupan modern, seperti riya, hidup demi penilaian orang lain, ujub, tertipu oleh citra diri, hasad, gelisah melihat keberhasilan orang lain, serta hubbul jah, kecanduan pengaruh dan kuasa.

Dalam bahasa psikologi kontemporer, ini adalah bentuk ketergantungan pada validasi eksternal, sebuah kondisi di mana nilai diri ditentukan oleh tepuk tangan, angka, jabatan, atau popularitas.
Pemikiran Al-Ghazali menjadi semakin penting karena ia tidak hanya mengkritik orang lain, tetapi juga membuka luka batinnya sendiri. Dalam Al Munqidz min ad Dhalal, ia mengisahkan krisis mental yang membuatnya kehilangan kemampuan mengajar dan berbicara, meskipun secara sosial ia berada di puncak karier. Ia mengakui adanya jurang antara apa yang ia ajarkan dan apa yang ia rasakan di dalam dirinya.

Pengakuan ini adalah pelajaran besar bahwa gangguan mental tidak selalu lahir dari kegagalan, tetapi justru sering muncul dari ketidaksinkronan antara batin dan peran sosial.
Dalam Tahafut al Falasifah, Al-Ghazali mengingatkan bahwa akal, meskipun penting, tidak cukup untuk menyembuhkan kegelisahan manusia. Rasionalitas dapat menjelaskan hidup, tetapi tidak selalu memberi ketenangan. Banyak manusia modern yang cerdas, logis, dan terdidik, tetapi tetap merasa kosong. Al-Ghazali melihat bahwa akar ketenangan bukan semata pada pengetahuan, melainkan pada makna hidup yang tertanam dalam jiwa.
Melalui Mizan al Amal, Al-Ghazali menambahkan dimensi penting lainnya bahwa manusia sering menipu dirinya sendiri.

Banyak kebaikan dilakukan bukan karena jiwa yang sehat, tetapi karena ketakutan kehilangan citra.

Di sinilah kegelisahan disembunyikan dengan rapi, di balik moralitas publik, kesibukan sosial, dan simbol-simbol kesalehan.
Jika dirangkum, kesehatan mental versi Imam Al-Ghazali bukanlah soal meniadakan dunia, kekuasaan, atau pengaruh sosial. Ia juga bukan ajakan untuk menarik diri dari realitas. Justru sebaliknya, Al-Ghazali menekankan kejujuran batin, keberanian untuk menyelaraskan hati, akal, dan perilaku. Jiwa yang sehat adalah jiwa yang tidak terpecah, tidak memainkan peran palsu di luar, dan tidak menyimpan luka yang terus ditekan di dalam.
Di tengah modernisasi yang bergerak cepat, manusia semakin mahir membangun citra, tetapi semakin asing dengan dirinya sendiri. Kegelisahan itu tidak hilang, ia hanya disembunyikan. Pemikiran Al-Ghazali mengingatkan kita bahwa ketenangan sejati tidak lahir dari pengakuan eksternal, melainkan dari hati yang kembali jujur pada tujuan hidupnya.
Refleksi ini menjadi penting di awal 2026, ketika dunia menuntut manusia untuk terus tampil, bersaing, dan terlihat berhasil. Barangkali pertanyaan paling mendasar bukan lagi seberapa hebat kita di mata orang lain, melainkan apakah jiwa kita masih mengenali dirinya sendiri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twelve + 12 =