Ketika Air Lebih Bijak dari Zaman

Oleh :Amin Hidayat

Catatan menjelang sholat Jum’at di Menara Kudus 2 Januari 2026

Menjelang sholat Jum’at saya melihat tidak seperti biasanya di menara Kudus . Saya melihat panggung sederhana tapi penuh makna. Karena disitulah saksi sejarah peradaban bangsa terus berjalan.

Setahu saya itu adalah persiapan untuk acara kirap Banyu penguripan. Saya tertarik untuk mencatat sedikit tentang itu .

Bismillah….

Setiap 19 Rajab, masyarakat Kudus menghidupkan kembali sanad kebudayaannya melalui Kirab Banyu Penguripan, bagian dari peringatan Ta’sis Masjid Al-Aqsha Menara Kudus yang berdiri sejak 19 Rajab 956 H (1549 M). Air dari berbagai mata air diarak dan disatukan di Menara Kudus, didoakan, lalu dibagikan. Sebuah laku kolektif yang menegaskan bahwa agama, budaya, dan kehidupan sosial tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling menguatkan dalam bingkai kemaslahatan.

Kirab ini tidak lahir dari kegaduhan simbol, tetapi dari hikmah dakwah. Meski tidak tercatat sebagai ritual formal sejak masa Sunan Kudus, tradisi banyu penguripan tumbuh dan dilembagakan secara kultural dalam beberapa dekade terakhir, sebagai ikhtiar nguri-uri tradisi yang selaras dengan nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Inilah wajah Islam Nusantara: tidak memutus akar, tidak menolak zaman, tetapi merawat keduanya secara seimbang.

Penyatuan air dari sumber yang berbeda adalah pelajaran tawassuth dan tasamuh yang nyata. Bahwa perbedaan tidak harus dipertajam, cukup dirawat agar tetap jernih. Di saat sebagian zaman memilih keras dan tergesa, Kudus justru mengajarkan kesabaran peradaban—bahwa yang paling bertahan bukan yang paling lantang, melainkan yang paling bijak menjaga sumber kehidupan bersama*

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 + 6 =