Ketika lidah lengah …..!

Ego, kesadaran batin, dan ujian moral manusia berkuasa


Redaksi editorial Indonesia news 

Ada kalanya manusia tidak sedang kalah oleh orang lain, melainkan oleh dirinya sendiri. Kata-kata meluncur tanpa saringan, emosi mendahului kebijaksanaan, lalu disebut sebagai keceplosan. Padahal yang sedang berbicara bukan sekadar lidah, melainkan ego yang merasa aman karena kekuasaan.

Dalam psikologi batin, kekuasaan bekerja seperti sugesti halus. Ia membuai tanpa memaksa. Dipatuhi terus-menerus, seseorang perlahan masuk ke kondisi setengah sadar. Rasa benar tumbuh, empati menipis, dan kehati-hatian melemah. Pada titik itu, bahasa berubah. Nada meninggi, sikap mengeras, dan kata-kata kehilangan kelembutan.

Tidak ada ucapan yang benar-benar netral. Apa yang keluar dari mulut adalah pantulan dari isi terdalam hati. Keceplosan bukan kebetulan, melainkan kejujuran batin yang lolos dari penjagaan akal. Saat seseorang merasa dirinya lebih tinggi dan lebih berhak, lidah akan mengikutinya tanpa sadar.

Agama sejak awal mengingatkan bahwa kata-kata bukan perkara ringan. Setiap ucapan memiliki jejak moral. Bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai pengingat bahwa lidah adalah pintu hati. Jika hati dipenuhi kesombongan, maka bahasa akan memantulkannya dengan jujur.

Dalam psikologi spiritual, ego jarang muncul sebagai amarah semata. Ia sering hadir sebagai rasa benar yang berlebihan. Merasa paling tahu, paling berjasa, paling pantas didengar. Ketika itu terjadi, kritik terasa seperti serangan, bukan cermin. Padahal cerminlah yang menjaga kewarasan jiwa.

Para pemikir sufistik memahami bahwa jabatan adalah ujian paling halus. Ia datang bersama pujian dan penghormatan. Ego merasa disuburkan. Kesadaran mulai tertidur. Seseorang masih berbicara tentang moral, tetapi tidak lagi hidup di dalamnya. Di sinilah kekuasaan mulai membelokkan lidah tanpa disadari.

Masalahnya bukan pada kekuasaan itu sendiri, melainkan pada lupa. Lupa bahwa jabatan hanyalah titipan. Lupa bahwa semakin tinggi posisi, semakin rendah seharusnya hati. Lupa bahwa adab selalu lebih dahulu daripada wewenang.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi siapa pun. Saya  hanya mengajak berhenti sejenak, menunduk ke dalam diri, dan bertanya dengan jujur. Siapa yang sedang berbicara dari lidah kita hari ini. Kesadaran atau ego.

Sebab pada akhirnya, kekuasaan tidak diukur dari kerasnya suara, melainkan dari kemampuan menjaga kata-kata. Lidah yang terjaga adalah tanda hati yang masih hidup.

Amin Hidayat, MPd, CMH.,CI.,

Praktisi psikologi politik dan hipnoterapi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

2 × 1 =