Ketika Stabilitas Mental Pemimpin Menjadi Ancaman Global
Analisa Psikologi
Bahaya Ketidakstabilan Mental Pemimpin bagi Negara Besar
Editorial Indonesia news
Ketidakstabilan mental dan emosional seorang pemimpin bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan isu strategis yang dapat berdampak luas pada keamanan, stabilitas politik, dan kepercayaan publik.
Pemimpin yang tidak stabil berisiko mengambil keputusan impulsif, sulit menjaga konsistensi kebijakan, serta rentan melakukan kesalahan komunikasi yang dapat memicu ketegangan domestik maupun internasional.
Dalam konteks negara besar, risiko ini menjadi berlipat karena setiap keputusan berpotensi memengaruhi tatanan global.
Sebagai contoh, dalam beberapa waktu terakhir beredar laporan serius mengenai kondisi mental Presiden Amerika Serikat. Dr.
Bandy Lee, seorang psikiater forensik dan editor buku The Dangerous Case of Donald Trump, mengungkapkan bahwa sejumlah staf Gedung Putih menghubunginya karena khawatir Presiden terlalu tidak stabil secara mental untuk menjalankan tugasnya.
Kekhawatiran tersebut diperkuat oleh pernyataan mantan Sekretaris Pers Gedung Putih, Stephanie Grisham, yang pada 20 Januari 2026 menyebut bahwa dalam konferensi pers yang panjang Presiden tampak kurang berenergi dan menunjukkan penurunan kondisi mental.
Presiden Amerika Serikat yang kini berusia 79 tahun itu juga dilaporkan sempat lupa kata penting saat membahas riwayat kesehatan keluarganya dalam sebuah wawancara.
Kekhawatiran publik semakin menguat ketika, dalam pidato di Air Force One, Presiden mencampuradukkan istilah “perang” dan “perdamaian” dengan pernyataan kontradiktif bahwa “perdamaian sangat merusak bagi semua orang.” Pernyataan yang bersifat kontraproduktif ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai konsistensi berpikir dan kemampuan mengelola tekanan strategis, khususnya dalam konteks kebijakan luar negeri dan diplomasi internasional.
Dari sudut pandang psikologi, kondisi mental seorang pemimpin sangat dipengaruhi oleh keseimbangan energi emosional dan kognitif. Tekanan global yang terus-menerus, beban pengambilan keputusan strategis, serta tuntutan publik dapat menguras energi psikologis dan mengganggu kejernihan berpikir. Jika kondisi ini tidak dikelola dengan baik, risiko kesalahan penilaian akan meningkat, dan dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara yang dipimpin, tetapi juga oleh stabilitas dunia.
Kesehatan mental pemimpin, dengan demikian, bukan isu privat yang dapat diabaikan.
Ia adalah faktor strategis yang menentukan arah kebijakan, kepercayaan publik, dan posisi negara di panggung global. Dalam dunia yang semakin kompleks dan saling terhubung, stabilitas psikologis pemimpin menjadi prasyarat penting bagi stabilitas global.
Penulis:
Amin Hidayat., MPd.,CI.,
Praktisi psikologi Politik Indonesia
Referensi
[1]
Lee, Bandy X. (Editor). The Dangerous Case of Donald Trump. Thomas Dunne Books / St. Martin’s Press.
Keterangan: Buku berisi kumpulan esai dari puluhan psikiater dan psikolog yang membahas risiko ketidakstabilan mental seorang pemimpin serta dampaknya terhadap publik dan negara.
[2]
AOL News. Psychiatrist Claims White House Staff Raised Concerns About Trump’s Mental Health.
Keterangan: Laporan yang mengutip pernyataan Dr. Bandy Lee mengenai kekhawatiran staf Gedung Putih terhadap stabilitas mental Presiden dalam menjalankan tugas kenegaraan.
[3]
The Daily Beast. Trump’s Ex-Press Aide Sounds Alarm on ‘Mentally Slipping’ President, 79.
Keterangan: Artikel yang memuat komentar mantan Sekretaris Pers Gedung Putih, Stephanie Grisham, tentang penurunan energi dan kondisi mental Presiden berusia 79 tahun saat konferensi pers.
[4]
The Daily Beast. Trump, 79, Makes Awkward Mental Gaffe While Bragging About His Brain.
Keterangan: Laporan mengenai insiden Presiden lupa menyebut istilah medis penting dalam wawancara, yang memicu sorotan publik atas kondisi kognitifnya.
[5]
The Guardian. He Has Trouble Completing a Thought: Experts Raise Questions About Trump’s Mental Fitness.
Keterangan: Analisis pengamat dan ahli mengenai pola bicara, konsistensi berpikir, dan kelayakan mental Presiden dalam menghadapi tekanan kepemimpinan.
