Manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani” Warisan Spiritual dari Baghdad ke Tanah Jawa

Acara Rutin  Ritual Pembacaan Manaqib syech Abdul Qodir Jaelani di Rumah dinas Ketua DPRD Kabupaten Demak 

Di balik hiruk pikuk kehidupan modern yang sering menguras batin, pesantren di Indonesia menjaga satu warisan ruhani yang menenangkan jiwa: manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani. Tradisi ini bukan sekadar bacaan sejarah, melainkan jalan sunyi untuk menata hati agar tetap melangkah menuju Ridho Allah SWT.

Syekh Abdul Qodir Jaelani lahir pada tahun 470–471 Hijriah atau sekitar 1077–1078 Masehi di wilayah Gilan, Persia. Sejak muda, beliau dikenal sebagai pencari ilmu yang tekun, sabar, dan zuhud, menjauh dari gemerlap dunia demi mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Perjalanan hidup beliau kemudian berlabuh di Baghdad, pusat peradaban dan keilmuan Islam pada abad ke-12. Di kota inilah Syekh Abdul Qodir Jaelani menggabungkan ilmu syariat dan tasawuf secara seimbang, menempuh jalan panjang riyadhah dan mujahadah demi membersihkan hati.

Dalam khazanah tasawuf Islam, beliau dikenal dengan gelar Sulthanul Awliya’, Raja Para Wali. Gelar ini bukan pujian kosong, melainkan pengakuan atas keteguhan beliau menjaga syariat, keluhuran akhlak, dan keikhlasan hidup demi menggapai Ridho Allah SWT.

Salah satu warisan terpenting yang terus hidup hingga hari ini adalah manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani.

Manaqib berarti kisah-kisah keutamaan dan akhlak mulia orang-orang saleh, yang dituturkan agar menjadi cermin dan pelajaran bagi umat.

Dalam tradisi pesantren, manaqib tidak dipahami sebagai cerita mistik tanpa arah. Ia adalah sarana pendidikan batin, penguat adab, dan pengingat bahwa ilmu tanpa akhlak akan kehilangan cahaya.

Melalui manaqib, umat tidak diajak mengagungkan karomah, melainkan meneladani kesabaran, kejujuran, kezuhudan, dan kepasrahan seorang wali Allah dalam menjalani hidup.

Tradisi pembacaan manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani masuk ke Nusantara seiring berkembangnya dakwah Islam bercorak tasawuf sejak abad ke-17. Para ulama Nusantara yang menuntut ilmu di Makkah, Madinah, dan pusat-pusat ilmu Islam membawa pulang ajaran akhlak dan dzikir yang lembut serta membumi.

Melalui jalur inilah manaqib dikenal luas di Nusantara. Dakwah disampaikan bukan dengan paksaan, melainkan dengan kisah, keteladanan, dan pendekatan ruhani yang menyentuh hati masyarakat.

Di Tanah Jawa, tradisi manaqib menemukan lahan subur. Pesantren-pesantren tradisional menjadikannya bagian dari majelis dzikir dan pengajian, dibacakan bersama shalawat dan doa dalam suasana khusyuk dan penuh ketenangan.

Tokoh Besar Pengamal Manaqib di Nusantara 

Sejumlah ulama besar Jawa dikenal sebagai pengamal dan penjaga tradisi manaqib. KH Hasyim Asy’ari menjadikan tasawuf akhlaki sebagai fondasi pendidikan pesantren, agar santri tumbuh dengan ilmu dan adab sekaligus.

KH Wahab Hasbullah turut menghidupkan majelis dzikir dan manaqib sebagai sarana penguatan spiritual umat. Sementara KH Bisri Mustofa memandang kisah para wali sebagai metode dakwah yang efektif untuk masyarakat luas.

Di Jawa Timur, nama KH Abdul Hamid Pasuruan dikenal luas sebagai ulama yang istiqamah menjaga tradisi manaqib. Majelis yang beliau pimpin selalu menekankan keikhlasan, tawadhu’, dan penghambaan total kepada Allah SWT.

Namun, manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani tidak hanya hidup di Tanah Jawa. Dari timur Nusantara, gema spiritual ini juga dijaga dan dirawat oleh para ulama besar.

Dari Makassar, Syekh Yusuf al-Maqassari menjadi tokoh penting penyebaran tasawuf Nusantara pada abad ke-17. Beliau dikenal sebagai pengamal tarekat Qadiriyah dan meneladani ajaran Sulthanul Awliya’ dalam dakwah dan laku hidupnya.

Syekh Yusuf al-Maqassari menekankan kesucian hati, keteguhan tauhid, dan keikhlasan amal. Bahkan dalam pengasingan hingga Afrika Selatan, beliau tetap mengajarkan tasawuf yang berakar pada akhlak dan penghambaan kepada Allah SWT.

Dari Sumatra Selatan, Syekh Abdus Shamad al-Palimbani dikenal sebagai ulama besar yang mengajarkan tasawuf sunni dan kezuhudan. Karya-karyanya memperkuat tradisi mengenang orang-orang saleh sebagai wasilah mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Dari Banten, Syekh Nawawi al-Bantani mengokohkan ajaran tasawuf yang berpijak kuat pada syariat. Meski dikenal sebagai ulama fiqih dan tafsir, beliau menekankan pentingnya adab dan keteladanan para wali dalam mendidik umat.

Di Sulawesi Selatan, Jawa, Sumatra, hingga wilayah Nusantara lainnya, majelis-majelis dzikir dan manaqib tumbuh sebagai ruang spiritual umat. Tradisi ini menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam satu kerinduan yang sama: mendekat kepada Allah SWT.

Bagi banyak jamaah, manaqib bukan sekadar bacaan teks. Ia menjadi cermin batin. Kisah hidup Syekh Abdul Qodir Jaelani sering kali membuat pembaca terdiam, merenung, bahkan meneteskan air mata karena merasa ditegur oleh keikhlasan seorang wali Allah.

Dalam suasana majelis manaqib, hati yang keras dilunakkan, jiwa yang gelisah ditenangkan. Bacaan itu mengalir perlahan, seakan mengetuk pintu batin terdalam, mengingatkan manusia bahwa hidup adalah perjalanan pulang menuju Allah SWT.

Di tengah krisis keteladanan dan kegaduhan zaman, pesantren tetap setia menjaga tradisi ini. Manaqib menjadi penyangga etika sosial, pengingat bahwa kekuatan umat tidak hanya terletak pada kecerdasan, tetapi pada kebersihan hati dan keluhuran akhlak.

Membaca manaqib, sebagaimana diyakini dalam tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, adalah bagian dari dzikir dan wasilah untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Mengenang orang-orang saleh diharapkan mampu menggerakkan jiwa untuk meneladani amal kebaikan mereka.

Di Nusantara, dari Baghdad yang jauh hingga Tanah Jawa dan Makassar, manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani terus hidup. Ia bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan cahaya spiritual yang menjaga iman, adab, dan istiqamah umat dalam mengabdi kepada Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

nine − nine =