Membaca Banjir Kudus dari Hulu” Catatan Seorang Wartawan
Editorial Indonesia news,
Setiap kali banjir datang ke Kudus, ingatan saya selalu kembali ke lapangan, jauh sebelum air itu sampai ke jalan-jalan kota. Sebagai wartawan, saya pernah belajar bahwa banjir tidak pernah benar-benar lahir di tempat ia terlihat. Ia tumbuh perlahan di hulu, di lereng Gunung Muria dan Gunung Rahtawu, lalu bergerak ke bawah membawa cerita yang panjang.
Tulisan ini tidak saya maksudkan untuk mengkritik siapa pun. Saya menuliskannya sebagai sebuah refleksi—upaya membaca ulang apa yang pernah saya lihat, dengar, dan catat sekitar satu dekade lalu, ketika saya masih aktif melakukan liputan pendalaman tentang banjir di Kabupaten Kudus.
Hulu yang Menjaga, Hulu yang Bertahan Hidup
Di Gunung Rahtawu, bagian dari semenanjung tua Muriah, saya belajar memahami gunung bukan sebagai lanskap indah, melainkan sebagai ruang hidup. Dahulu, hutan-hutan di sana berfungsi sebagai penjaga air. Ia menyerap hujan, menahannya, lalu melepasnya perlahan ke dataran bawah.
Namun realitas di lapangan tidak sesederhana konsep lingkungan. Sebagian besar lahan di Rahtawu adalah tanah hak milik warga, bukan kawasan hutan negara. Pada awal 2010-an, saya ingat betul, bersama Dinas Pertanian Kabupaten Kudus—saat itu dipimpin Pak Budi Santoso—kami pernah mencoba mencari jalan tengah. Warga tetap menanam jagung, tetapi diminta menanam pohon-pohon kayu, seperti mangga, di sela-sela ladang.
Secara kesadaran, masyarakat memahami maksud itu. Yang menjadi persoalan bukan kemauan menjaga gunung, melainkan kebutuhan hidup yang berjalan harian. Pohon membutuhkan waktu lima hingga sepuluh tahun untuk tumbuh dan berfungsi menahan air. Sementara biaya sekolah dan kuliah anak tidak bisa menunggu. Ketika hasil jagung tidak mencukupi, pohon yang ditanam untuk masa depan akhirnya ditebang untuk hari ini.
Di situ saya melihat persoalan lingkungan dan ekonomi bertemu dalam ruang yang sunyi. Tidak ada perlawanan, tidak ada penolakan. Yang ada hanyalah pilihan-pilihan sulit yang diambil demi bertahan hidup.
Dari Gunung ke Sungai,Rantai yang Tak Terputus
Cerita serupa saya temukan di Gunung Muria. Selain pertanian, pembangunan berbasis wisata perlahan mengubah wajah gunung. Jalan dibuka, bangunan berdiri, dan ruang resapan air semakin menyempit. Semua berlangsung pelan, hampir tanpa terasa, tetapi dampaknya panjang.
Di hilir, persoalan menjadi semakin kompleks. Saya mencatat bagaimana luapan air di kawasan Jekulo, Ngejobo, hingga sepanjang jalur utama Jekulo tidak bisa dilepaskan dari kondisi Sungai Wulan dalam sistem Jeratun Seluna. Pendangkalan sungai yang berlangsung lama, tumpukan enceng gondok, serta aliran yang tersendat menuju Sungai Juwana membuat air kehilangan jalannya.
Akibatnya, air dari hulu tidak segera terbuang. Ia meluber ke jalan-jalan dan pemukiman, membawa serta persoalan yang sebenarnya telah lama mengendap. Di titik ini, saya melihat banjir Kudus bukan sebagai peristiwa tunggal, melainkan sebagai rangkaian sebab yang saling terkait dari hulu hingga ke muara.
Refleksi atas Persoalan yang Kompleks
Sekali lagi, saya tidak menulis ini untuk menyalahkan. Saya mencoba melakukan refleksi atas persoalan yang saya yakini terlalu kompleks jika dibebankan pada satu pihak saja. Pemerintah daerah memiliki keterbatasan, terutama ketika berhadapan dengan lahan hak milik dan kebutuhan ekonomi warga.
Dalam pandangan saya, persoalan banjir Kudus membutuhkan pendekatan yang lebih panjang dan lebih sabar. Menyelamatkan lingkungan tanpa memikirkan penghidupan warga akan melahirkan persoalan baru. Sebaliknya, mempertahankan ekonomi tanpa menjaga gunung akan terus mengirim air ke hilir sebagai pengingat.
Tulisan ini saya buat bukan untuk mengoreksi, apalagi menyalahkan siapa pun. Saya hanya mencoba berbagi ingatan dan refleksi dari pengalaman lapangan yang pernah saya jalani, dengan harapan kecil bahwa apa yang pernah saya lihat dan dengar dapat menjadi bagian dari ikhtiar bersama dalam memahami banjir Kudus secara lebih utuh dan manusiawi.
Barangkali, dengan membaca kembali dari hulu, kita bisa belajar berjalan lebih pelan, agar air tidak lagi harus berbicara dengan caranya sendiri.
Penulis:
Amin Hidayat, MPD, CMH, CI.,
Mantan wartawan salah satu media cetak di Kudus.
