Menjaga Keutuhan Pesantren dengan Sejarah
Catatan pagi (2)
Amin Hidayat.,MPd.,CI,
Pesantren tidak berdiri karena kemudahan. Ia lahir justru dari keterbatasan, dari kegelisahan zaman, dan dari keberanian melawan keadaan. Karena itu, membicarakan pesantren tanpa sejarah sama artinya dengan merawat bangunan sambil membiarkan fondasinya retak. Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu pesantren, melainkan penyangga keutuhannya.
Di tengah arus modernisasi dan tuntutan adaptasi yang semakin kuat, pesantren sering didorong untuk berubah cepat. Tidak ada yang keliru dengan pembaruan. Yang menjadi masalah adalah ketika perubahan itu dilakukan dengan mengorbankan ingatan sejarah. Padahal, keutuhan pesantren baik secara ideologis, kultural, maupun sosial justru bertumpu pada kesadaran akan asal-usul dan perjalanan panjangnya.
Pesantren Lahir dari Rahim Perjuangan Sosial
Sejarah menunjukkan bahwa pesantren di Nusantara tidak lahir dari proyek kekuasaan, apalagi desain negara. Ia tumbuh dari bawah, dari inisiatif ulama dan kebutuhan riil masyarakat. Sejak abad ke-13, di wilayah Samudera Pasai, Aceh, telah berkembang sistem pendidikan Islam berbasis dayah yang mengajarkan fikih, tauhid, dan tasawuf. Dayah-dayah ini hidup bersama masyarakat, menjadi pusat pembinaan moral sekaligus ruang konsolidasi sosial.
Model pendidikan serupa berkembang di Minangkabau melalui surau. Pada abad ke-17, di bawah bimbingan Syekh Burhanuddin Ulakan, surau tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat kaderisasi ulama dan pemimpin masyarakat. Relasi guru dan murid dibangun dalam ikatan hidup bersama, kesederhanaan, dan disiplin spiritual yang kuat.
Di Jawa, embrio pesantren semakin jelas pada abad ke-15. Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik), yang wafat pada 1419, dikenal sebagai perintis dakwah dan pendidikan Islam berbasis komunitas. Jejak ini dilanjutkan oleh Sunan Ampel, yang sekitar tahun 1440-an mendirikan pusat pendidikan di Ampel Denta. Dari sinilah lahir generasi ulama yang menyebarkan Islam ke berbagai wilayah Nusantara.
Pesantren sejak awal bukan lembaga formal, melainkan gerakan kultural yang mengakar kuat dalam kehidupan rakyat.
Ulama Sufi dan Fondasi Pendidikan Pesantren
Penting ditegaskan bahwa fondasi awal pesantren Nusantara dibangun oleh ulama sufi. Mereka membawa Islam dengan pendekatan spiritual dan etis, bukan dengan pemaksaan atau kekerasan. Inilah yang menjelaskan mengapa pesantren mampu berdialog dengan budaya lokal tanpa kehilangan substansi ajaran Islam.
Sunan Giri, misalnya, mendirikan pusat pendidikan di Giri Kedaton pada akhir abad ke-15. Pesantren ini berkembang bukan hanya sebagai pusat keilmuan, tetapi juga pusat pengaruh sosial dan politik. Dari Giri, jaringan dakwah dan pendidikan Islam menjangkau Madura, Lombok, Kalimantan, hingga kawasan timur Nusantara.
Pola pendidikan pesantren menekankan hidup bersama guru, keteladanan, dan pembentukan karakter. Santri tidak hanya dididik untuk menguasai ilmu, tetapi juga dilatih hidup sederhana, mandiri, dan bertanggung jawab terhadap masyarakat. Fondasi inilah yang membuat pesantren mampu bertahan lintas generasi.
Pesantren dan Tradisi Melawan Penindasan
Ketika kolonialisme Eropa mencengkeram Nusantara, pesantren tidak mengambil posisi aman. Ia berdiri bersama umat yang tertindas. Pada abad ke-18 dan 19, banyak pesantren menjadi basis perlawanan terhadap penjajahan. Jejaring kiai dan santri terlibat aktif dalam Perang Jawa (1825–1830) yang dipimpin Pangeran Diponegoro, perlawanan rakyat Banten, serta Perang Aceh yang digerakkan oleh ulama dayah.
Peran historis pesantren mencapai puncaknya pada tahun 1945, ketika KH. Hasyim Asy’ari mengeluarkan Resolusi Jihad. Seruan ini menegaskan bahwa mempertahankan kemerdekaan adalah kewajiban moral dan religius. Di titik ini, pesantren tampil bukan hanya sebagai lembaga pendidikan, tetapi sebagai penjaga arah perjuangan bangsa.
Sejarah sebagai Perekat Keutuhan Pesantren
Di era sekarang, generasi muda pesantren hidup dalam dunia yang serba cepat dan sering kali ahistoris. Tanpa pengenalan sejarah, pesantren mudah dipersepsi sebagai lembaga pinggiran, tradisi dianggap beban, dan identitas menjadi rapuh.
Sebaliknya, pemahaman sejarah melahirkan rasa bangga dan rasa memiliki. Santri yang mengenal sejarah pesantrennya akan memahami bahwa tradisi bukan penghambat kemajuan, melainkan strategi bertahan. Kesederhanaan bukan tanda keterbelakangan, melainkan pilihan ideologis yang diwariskan melalui perjuangan panjang.
Sejarah menjadikan pesantren tetap utuh tidak tercerabut dari akarnya, sekaligus tidak kehilangan orientasi masa depan.
Menjaga Ingatan, Menjaga Masa Depan
Pesantren akan terus hidup sejauh ia mampu merawat ingatannya. Pembaruan boleh dilakukan, modernisasi tidak bisa dihindari, tetapi sejarah tidak boleh ditinggalkan. Sebab pesantren yang lupa sejarahnya akan kehilangan ruhnya sendiri.
Dalam Tulisan ini ingin saya menegaskan satu hal mendasar,
pesantren berdiri bukan karena kemudahan, tetapi karena keteguhan sejarah dan keberanian melawan zaman.
Menjaga sejarah berarti menjaga keutuhan pesantren hari ini dan untuk generasi yang akan datang.*

