Moral yang Memilih Aman Akan Berakhir Sebagai Hiasan Sejarah


Dihormati, dipanggil saat krisis, namun disingkirkan ketika arah Politik ditentukan.

Redaksi Editorial Indonesia news 

Sambil minum secangkir teh Poci..!

Bangsa ini berkali-kali memanggil moral saat keadaan genting, namun menaruhnya kembali ke pinggir ketika keputusan besar harus diambil. Pola ini terasa sopan, tapi menyimpan luka politik yang terus diwariskan.

Bangsa ini tidak kekurangan moral, tetapi terlalu sering menempatkannya di posisi aman. Etika dijaga dan dihormati, namun hanya berfungsi sebagai penenang, bukan pengendali. Dalam politik, pilihan aman sering disalahpahami sebagai kebijaksanaan, padahal ia adalah penundaan kepemimpinan yang dikemas rapi.
Ketika moral memilih aman, ia berhenti menjadi penentu dan berubah menjadi legitimasi pasif.

Sejarah lalu memperlakukannya seperti pajangan  dipuji, dikutip, lalu dilewati. Negara tetap berjalan, tetapi arah ditentukan oleh mereka yang berani mengambil risiko, bukan oleh mereka yang paling berakar di masyarakat.

Pola ini melahirkan ilusi stabilitas. Nasionalisme tanpa kedalaman sosial menghasilkan kekuasaan yang kering, sementara moral tanpa keberanian politik hanya menjadi nasihat yang tak mengikat.

Bangsa terlihat tenang, tetapi sesungguhnya sedang menumpuk kelelahan kolektif karena keputusan strategis terus lahir jauh dari denyut kultural rakyat.

Menjelang 2029, pertanyaan paling jujur bukan siapa yang paling pantas dihormati, melainkan siapa yang berani berhenti bermain aman. Sejarah tidak menunggu yang sabar dan tidak mencatat yang ragu.

Ia hanya mengingat mereka yang berani mengambil alih kemudi, ketika yang lain memilih tetap rapi sebagai hiasan.

Selanjutnya……..Entahlah……..!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

19 − 4 =