Mudah Menelepon, Sulit Menjawab

Fenomena Baru Komunikasi di Era Psikologis yang Lelah


Editorial Indonesia news 

Di tengah arus komunikasi digital yang semakin cepat, masyarakat justru menghadapi paradoks baru dalam relasi sosial dan profesional.

Teknologi yang dirancang untuk mendekatkan manusia kini memperlihatkan gejala sebaliknya: keterhubungan yang timpang dan kehadiran yang selektif.

Fenomena orang yang mudah menghubungi ketika membutuhkan sesuatu, tetapi sulit dihubungi saat peran dibalik, semakin sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.

Pesan dibaca tanpa balasan, panggilan tak terangkat, dan komunikasi dibiarkan menggantung tanpa penjelasan. Pola ini bukan lagi kasus individual, melainkan kecenderungan sosial yang memengaruhi kualitas hubungan antarindividu.

Perilaku tersebut tidak dapat dipahami semata sebagai persoalan etika personal. Ia telah berkembang menjadi gejala psikologis yang membentuk pola komunikasi baru di masyarakat modern.

1. Fokus Mental dan Penutupan Akses Sementara

Dalam psikologi kognitif, sebagian individu yang sulit dihubungi berada dalam kondisi deep focus atau fokus mendalam.

Istilah ini merujuk pada keadaan ketika perhatian mental seseorang sepenuhnya terserap pada satu aktivitas, sehingga rangsangan lain secara otomatis dikesampingkan.

Kondisi ini juga dikenal sebagai task absorption, yaitu penyerapan total perhatian pada tugas tertentu. Dalam situasi tersebut, otak secara alami mengurangi respons terhadap pesan, notifikasi, atau panggilan demi menjaga efektivitas kerja.

Dalam perspektif hipnoterapi, keadaan ini menyerupai task-induced trance, yakni trance ringan yang muncul secara alami ketika seseorang sangat fokus. Individu tidak sedang menghindari orang lain, melainkan sedang berada dalam kondisi kesadaran menyempit untuk menjaga kestabilan kognitif.

Namun fokus mental menjadi persoalan relasional ketika tidak disertai komunikasi batasan. Ketika seseorang menuntut respons cepat dari orang lain, tetapi tidak menjelaskan ketidakhadirannya sendiri, ketimpangan mulai terbentuk dalam hubungan.

2. Penghindaran Emosional sebagai Mekanisme Bertahan

Psikologi relasi mengenal konsep avoidant attachment atau pola keterikatan menghindar. Ini adalah kecenderungan individu untuk menjaga jarak emosional karena merasa tidak nyaman dengan tuntutan kedekatan, konflik, atau keterikatan.

Pada tipe ini, komunikasi terutama melalui telepondipersepsi bukan sekadar pertukaran informasi, melainkan potensi beban emosional. Menunda atau menghindari respons menjadi mekanisme perlindungan diri, bukan sikap acuh.

Dalam kerangka Neuro-Linguistic Programming, yaitu pendekatan psikologi yang mempelajari hubungan antara pola pikir, bahasa, dan perilaku, perilaku ini berkaitan dengan penghindaran emotional anchoring.

Emotional anchoring adalah proses ketika suatu stimulus, seperti telepon, memicu emosi atau respons tertentu yang pernah dialami sebelumnya.
Dengan kata lain, panggilan telepon dapat diasosiasikan dengan tekanan, tuntutan, atau pengalaman tidak menyenangkan, sehingga secara bawah sadar dihindari.

3. Ketimpangan Akses dan Kontrol Relasi

Selain faktor fokus dan penghindaran, terdapat dimensi lain yang lebih subtil, yakni kekuasaan simbolik dalam komunikasi. Psikologi pergaulan menunjukkan bahwa siapa yang mudah dihubungi dan siapa yang sulit diakses mencerminkan struktur status dalam relasi.

Diam dan keterlambatan respons dapat berfungsi sebagai sinyal kontrol. Dalam Neuro-Linguistic Programming, pola ini dikenal sebagai control framing, yaitu cara mengatur ritme interaksi untuk menegaskan posisi atau otoritas sosial.
Individu dengan pola ini bebas menghubungi orang lain, tetapi tidak menyediakan ruang yang sama untuk dihubungi balik.

Relasi semacam ini jarang memicu konflik terbuka, namun menghasilkan kelelahan emosional. Orang tidak marah, tetapi perlahan enggan menjalin komunikasi lebih jauh.

4. Kelelahan Mental di Balik Layar Digital

Fenomena sulit dihubungi juga tidak dapat dilepaskan dari kelelahan mental kolektif. Banjir notifikasi, tekanan untuk selalu responsif, dan tuntutan multitugas memicu kondisi yang dalam psikologi disebut decision fatigue atau kelelahan dalam mengambil keputusan.

Dalam kondisi ini, membaca pesan saja sudah menguras energi mental. Respons ditunda bukan karena ketidakpedulian, melainkan karena kapasitas psikologis yang menipis.

Sistem saraf memilih bertahan dengan membatasi interaksi.
Namun kelelahan pribadi berubah menjadi persoalan sosial ketika tidak dikomunikasikan. Tanpa penjelasan, orang lain hanya menangkap satu pesan: ketidakhadiran.

Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk menghakimi individu yang sulit dihubungi. Namun penting ditegaskan bahwa relasi yang sehat menumbuhkan keadilan akses.

Jika seseorang merasa wajar untuk menghubungi orang lain, maka ia juga memikul tanggung jawab untuk dapat dihubungi atau setidaknya menjelaskan batasannya secara terbuka.
Di era komunikasi instan, masalah terbesar bukanlah pesan yang terlambat dibalas.

Masalahnya adalah rasa tidak dianggap yang dibiarkan berulang. Ketika itu terjadi, yang perlahan rusak bukan teknologi, melainkan kepercayaan sosial sebagai fondasi hubungan manusia.

Penulis:
Amin Hidayat, M.Pd., CMH, CI.,
praktisi psikologi relasi dan hipnoterapi Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

eighteen − 9 =