Pesantren Nusantara Sejarah, Sanad, dan Spirit Tasawuf
Amin Hidayat,MPd,CI.,
Peneliti Human Care Institut Jakarta
Pesantren bukanlah institusi yang lahir secara tiba-tiba dalam sejarah Nusantara. Ia tumbuh melalui proses panjang, mengikuti irama masuk dan menguatnya Islam dari barat hingga timur kepulauan.
Di balik berdirinya pesantren, terdapat dua pilar utama yang saling menguatkan, sanad keilmuan dan spirit tasawuf. Tanpa keduanya, pesantren tidak dapat dipahami secara utuh.
Jejak paling awal pendidikan Islam di Nusantara dapat ditelusuri ke Samudera Pasai, Aceh, sekitar 1267 M (± 665 H). Tokoh sentral pada fase ini adalah Sultan Malik al-Shalih, pendiri dan sultan pertama Samudera Pasai.
Di bawah kepemimpinannya, Pasai berkembang sebagai kerajaan Islam pertama di Nusantara sekaligus pusat pengajaran agama. Pendidikan Islam berlangsung melalui halaqah dan majelis ilmu yang diasuh para ulama bermazhab Syafi’i.
Meski belum berbentuk pesantren sebagaimana dikenal kemudian, Pasai menjadi fondasi intelektual dan keilmuan Islam Nusantara.
Memasuki awal abad ke-15, pusat perkembangan pendidikan Islam bergeser ke Jawa, khususnya wilayah Gresik. Di sini tampil Maulana Malik Ibrahim sebagai perintis dakwah dan pendidikan Islam. Sekitar 1404–1419 M (± 806–822 H), ia membangun komunitas Muslim dengan pola guru dan murid yang hidup menetap, mengajarkan agama sekaligus memberdayakan masyarakat.
Pola inilah yang menjadi embrio pesantren. Islam tidak hanya diajarkan sebagai doktrin, tetapi dihidupkan dalam praktik sosial dan akhlak keseharian.
Tahap berikutnya terjadi di Ampel Denta, Surabaya, melalui peran Raden Rahmat atau Sunan Ampel, sekitar 1440–1445 M (± 844–850 H). Sunan Ampel menyempurnakan sistem pendidikan Islam dengan santri mukim, kurikulum keilmuan, dan kaderisasi ulama. Dari pesantren Ampel Denta lahir tokoh-tokoh besar seperti Sunan Giri, Sunan Bonang, dan Sunan Drajat, yang menyebarkan Islam sekaligus mendirikan pusat-pusat pendidikan baru.
Pada fase inilah pesantren tampil sebagai lembaga pendidikan Islam yang mapan dan berkelanjutan.
Penyebaran pesantren selanjutnya mengikuti arus Islamisasi kerajaan-kerajaan lokal. Di Kalimantan Selatan, Islam berkembang seiring berdirinya Kesultanan Banjar pada awal abad ke-16.
Tokoh utamanya adalah Sultan Suriansyah, sultan Banjar pertama yang memeluk Islam sekitar 1526 M (± 932 H). Pendidikan agama tumbuh melalui pengajian ulama dan lembaga keislaman rakyat, yang kemudian membentuk tradisi pesantren Banjar yang kuat hingga hari ini.
Di kawasan Maluku, khususnya Ternate dan Tidore, Islam berkembang sejak abad ke-15 hingga 16. Tokoh pentingnya adalah Sultan Zainal Abidin dari Ternate, yang menjadikan Maluku sebagai pusat dakwah dan pendidikan Islam di kawasan timur Nusantara.
Wilayah ini berperan sebagai jembatan penyebaran Islam ke Sulawesi, Nusa Tenggara, hingga Papua.
Islamisasi Sulawesi Selatan mencapai momentum penting pada 1605 M (± 1013 H), ketika Sultan Alauddin dari Kerajaan Gowa memeluk Islam.
Proses ini didorong oleh ulama Minangkabau yang dikenal sebagai Dato’ ri Bandang, Dato’ ri Patimang, dan Dato’ ri Tiro. Setelah Islam menjadi agama kerajaan, pengajian dan pendidikan agama berkembang luas, menjadi dasar lahirnya lembaga-lembaga pendidikan Islam di Sulawesi.
Di Nusa Tenggara Barat, khususnya Lombok, pendidikan Islam berkembang sejak abad ke-16 hingga 17 melalui peran para tuan guru, ulama lokal yang mengajarkan Islam dengan sistem santri mukim sederhana.
Adapun di Nusa Tenggara Timur, terutama wilayah pesisir seperti Pulau Solor dan Flores Timur, Islam masuk sejak abad ke-15 melalui jaringan dagang dan dakwah Maluku, meski lembaga pesantren berkembang secara bertahap dan terbatas.
Wilayah Papua menempati fase paling akhir dalam kronologi ini. Meski Islam telah dikenal di pesisir Papua Barat sejak abad ke-16 melalui pengaruh Kesultanan Tidore, lembaga pendidikan Islam berbentuk madrasah dan pesantren baru berkembang nyata pada awal abad ke-20, sekitar 1920–1930-an, seiring dakwah modern dan mobilitas penduduk Muslim.
Yang menyatukan seluruh proses panjang ini bukan semata jaringan ulama dan kekuasaan, melainkan spirit tasawuf.
Para perintis Islam Nusantara adalah ulama sufi yang membawa Islam dengan akhlak, kesabaran, dan keteladanan. Sanad tasawuf mereka bersambung hingga Rasulullah Muhammad ﷺ melalui jalur sahabat seperti Abu Bakar ash-Shiddiq dan Ali bin Abi Thalib, diteruskan oleh tokoh-tokoh tasawuf Sunni seperti Hasan al-Bashri, Junayd al-Baghdadi, dan diperkokoh oleh Imam al-Ghazali.
Tasawuf inilah yang membentuk watak pesantren Nusantara, teguh dalam syariat, lentur dalam budaya, dan dalam dalam spiritualitas. Pesantren bukan hanya tempat transfer ilmu, tetapi ruang tazkiyatun nafs, penyucian jiwa, yang melahirkan ulama berilmu sekaligus berakhlak.
Dengan demikian, pesantren Nusantara bukan institusi lokal yang terputus dari dunia Islam, melainkan mata rantai sanad keilmuan dan spiritualitas yang bersambung hingga Rasulullah ﷺ. Dari Pasai hingga Papua, pesantren tumbuh sebagai warisan peradaban—bukan hanya untuk masa lalu, tetapi sebagai fondasi masa depan Islam Indonesia.
