Pesantren, Pusat Pemberdayaan Ekonomi Rakyat

Untsa Qonita :

Penulis adalah Santriyah Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an Putri Muria Kudus Jawa Tengah 

Pesantren tidak lagi sekadar dipahami sebagai lembaga pendidikan keagamaan. Dalam konteks Indonesia hari ini, pesantren telah bertransformasi menjadi pusat pemberdayaan ekonomi rakyat yang nyata, hidup, dan berakar kuat di tengah masyarakat.

Dengan jumlah pesantren yang mencapai puluhan ribu dan santri yang tersebar hingga pelosok negeri, pesantren sesungguhnya menyimpan modal sosial dan ekonomi yang sangat besar.

Modal itu hadir dalam bentuk kemandirian, etos kerja, kepercayaan masyarakat, serta jaringan sosial yang telah terbangun lintas generasi.
Di banyak daerah, pesantren telah menjadi titik simpul ekonomi lokal.

Koperasi pesantren tumbuh sebagai penggerak ekonomi internal, sementara masyarakat sekitar ikut merasakan dampaknya melalui aktivitas jual beli kebutuhan pokok, makanan, pakaian, kitab, hingga jasa harian.

Pesantren sebagai Titik Balik Ekonomi Masyarakat
Keunggulan pesantren terletak pada posisinya yang unik  ia bukan institusi elitis, melainkan hidup bersama rakyat. Santri, kiai, dan masyarakat membentuk ekosistem ekonomi yang saling menguatkan usaha-usaha ekonomi berbasis pesantren kini semakin beragam. Mulai dari Usaha makanan dan kantin santri, Konveksi pakaian santri, Percetakan, toko kitab,
Hingga warung kopi santri sebagai ruang ekonomi sekaligus diskusi.

Semua ini bukan hanya menciptakan perputaran uang, tetapi juga mendidik santri tentang kewirausahaan, kemandirian, dan tanggung jawab sosial. Pesantren tidak mengajarkan ekonomi yang rakus, melainkan ekonomi yang beretika dan berkeadilan.

Sinergi Kiai, Santri, dan Rakyat

Peran kiai dalam ekosistem ini sangat strategis. Kiai bukan hanya pemimpin spiritual, tetapi juga penjaga arah moral ekonomi pesantren. Melalui musyawarah, audiensi, dan pendampingan, kiai dan santri membangun model ekonomi yang tidak tercerabut dari nilai keislaman dan Keindonesiaan.

Model ini relevan dengan tantangan ekonomi nasional hari ini: ketimpangan, pengangguran, dan lemahnya ekonomi rakyat. Pesantren menawarkan jalan alternatif ekonomi berbasis komunitas, gotong royong, dan kemandirian lokal

Sudah saatnya pesantren diposisikan sebagai mitra strategis pembangunan ekonomi nasional, bukan sekadar objek kebijakan. Ketika pesantren diberdayakan, yang bangkit bukan hanya institusi pendidikan, tetapi ekonomi rakyat itu sendiri.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

12 − 3 =