Sejarah Memilih Loyalitas

Oleh :Amin Hidayat 

Partai yang meninggalkan kader loyal demi modal sesaat sedang menukar kursi hari ini dengan kehancuran esok

Pemilu selalu melahirkan pemenang, tetapi tidak semua pemenang dicatat oleh sejarah. Menjelang Pemilu 2029, demokrasi Indonesia kembali diuji oleh dilema lama yang tak pernah benar-benar selesai, antara loyalitas kader dan realitas politik uang, antara mereka yang lama berproses tanpa modal besar dan mereka yang datang membawa kekuatan materi tanpa jejak pengabdian.

Pertanyaannya bukan lagi siapa yang bisa menang pemilu, melainkan siapa yang layak memimpin dan diwariskan.
Harus diakui secara jujur, politik uang masih bekerja. Dalam banyak kontestasi, uang mampu menggerakkan suara, membangun popularitas instan, dan mengantar kandidat ke kursi kekuasaan. Berbagai riset kepemiluan menunjukkan bahwa praktik membeli suara efektif ketika hubungan partai dan konstituen lemah serta kompetisi elektoral berlangsung mahal. Namun fakta lain yang jarang dibicarakan justru lebih menentukan, politik uang lemah dalam keberlanjutan dan rapuh dalam legitimasi.

Banyak politisi yang menang karena modal besar hanya bertahan satu periode, gagal terpilih kembali, tidak naik ke posisi strategis partai, dan tidak meninggalkan gagasan yang hidup. Mereka menang di bilik suara, tetapi hilang dari ingatan kolektif. Politik uang menciptakan pemenang sesaat, bukan pemimpin lintas zaman.

Sejarah tidak ditulis oleh transaksi, melainkan oleh makna. Ia tidak mencatat siapa yang paling banyak membagi amplop, tetapi siapa yang membentuk arah. Politik uang tidak melahirkan ideologi, tidak membangun loyalitas jangka panjang, dan tidak menumbuhkan kader baru, ia hanya membeli suara, menyewa kekuasaan, lalu meninggalkan kekosongan legitimasi.

Karena itu, di hampir semua negara, pemenang besar dalam sejarah bukanlah pemenang politik uang, melainkan mereka yang berproses lama, sering kalah, tetapi konsisten memperjuangkan nilai.

Pemilu memilih penguasa, sejarah memilih pemimpin.
Di titik inilah luka paling sunyi dalam politik kita berada. Banyak kader partai yang setia bertahun-tahun, menghidupi struktur, menjaga basis rakyat, hidup sederhana, tetapi tersingkir karena tidak memiliki modal besar.

Secara elektoral, loyalitas memang sering kalah, namun secara historis, kepemimpinan strategis partai hampir selalu lahir dari kader loyal, bukan dari kader transaksional.

Ketua umum, penjaga ideologi, dan penentu arah jangka panjang partai bukanlah mereka yang membeli tiket politik, melainkan mereka yang ditempa oleh kesabaran dan kesetiaan.
Bagi kader muda, Pemilu 2029 bukan sekadar ajang menang atau kalah, melainkan ujian karakter dan arah hidup politik.

Di tengah sistem yang mahal dan godaan jalan pintas, mereka dihadapkan pada pilihan mendasar, menjadi politisi instan yang cepat naik dan cepat jatuh, atau kader yang tumbuh pelan tetapi kokoh.

Sejarah memberi pelajaran tegas, mereka yang sabar, loyal, dan berdaya adalah mereka yang akhirnya mewarisi kepemimpinan.
Jika partai ingin memiliki masa depan, maka kader mudanya harus disiapkan dengan bekal yang nyata, loyalitas yang cerdas dengan memahami ideologi dan persoalan rakyat, kemandirian ekonomi agar tidak mudah dibeli dan tidak terjerat utang politik, serta kesabaran sejarah karena politik bukan sprint elektoral, melainkan maraton peradaban.

Politik uang mungkin memenangkan satu pemilu, tetapi ia selalu kalah ketika sejarah mulai menulis ulang ingatannya. Partai yang meninggalkan kader loyal demi modal sesaat sedang menukar kursi hari ini dengan kehancuran esok hari, sebaliknya partai yang merawat kadernya dengan ideologi, kemandirian, dan kesabaran sedang menyiapkan dirinya untuk bertahan lintas generasi. Pemilu 2029 akan memilih siapa yang berkuasa, tetapi sejarah, seperti biasa, akan memilih siapa yang layak dikenang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

10 + three =