Tahun Baru”Ramai di Jalan, Sepi di Dalam Jiwa

Setiap tahun baru, masyarakat bergerak serempak. Jalanan padat, tempat wisata penuh, dan hiburan menjadi tujuan bersama. Fenomena ini bukan semata euforia, melainkan isyarat bahwa banyak jiwa sedang mencari jeda dari hidup yang terasa semakin menekan.

Dalam perspektif filosofis, manusia modern mengalami kelelahan batin. Hidup berjalan cepat, tetapi rasa tertinggal. Raga hadir di banyak tempat, sementara jiwa kehilangan ruang untuk berdiam dan memahami diri.

Tahun baru lalu dijadikan sandaran harapan. Bukan karena waktu sungguh berubah, melainkan karena manusia membutuhkan alasan untuk percaya bahwa hidup masih bisa ditata ulang. Angka di kalender menjadi penguat batin yang rapuh.

Kearifan Nusantara menyebut kegelisahan lahir saat manusia lupa eling. Terlalu sibuk memenuhi tuntutan luar, namun abai pada suara dalam. Hidup dijalani, tetapi tidak sungguh dihayati.

Liburan dan perayaan menjadi mekanisme bawah sadar untuk memulihkan rasa. Manusia ingin kembali merasakan ayem, tenteram, dan lega. Bukan sekadar senang, tetapi merasa utuh sebagai manusia.

Namun berpindah tempat tidak selalu menyembuhkan. Jika kegelisahan batin tidak disadari, sejauh apa pun perjalanan, luka akan tetap ikut serta. Yang dibutuhkan bukan pelarian, melainkan kesadaran.

Perayaan tahun baru juga merupakan ritual sosial. Keramaian memberi rasa aman semu. Di tengah tawa kolektif, manusia merasa tidak sendirian dalam lelahnya.

Padahal, kearifan lokal mengajarkan bahwa sunyi adalah ruang pemulihan sejati. Dalam menepi dan hening, manusia dipertemukan dengan dirinya sendiri. Di sanalah makna sering lahir.

Tahun baru 2026 semestinya dimaknai sebagai momentum melambat. Waktu untuk menata ulang arah hidup dan menimbang kembali tujuan. Bukan hanya merayakan, tetapi memahami.

Kesehatan mental tidak selalu berawal dari terapi formal. Ia bermula dari kejujuran pada diri sendiri. Dari keberanian mengakui lelah tanpa merasa kalah sebagai manusia.

Jika tahun baru hanya diisi dengan pelarian, kegelisahan akan kembali dalam bentuk yang sama. Namun jika dijalani dengan eling lan waspada, jiwa perlahan menemukan keseimbangannya.

Pada akhirnya, manusia tidak sedang mencari tempat yang indah. Ia sedang mencari rasa pulang. Dan pulang sejati bukan ke mana-mana, melainkan kembali ke dalam dirinya sendiri.*AHD*

 Amin Hidayat, MPd, CI,      

         Penulis adalah Praktisi Hipnoterapi Indonesia Hypnosis Center (IHC)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

4 + fourteen =