Trump, Gajah Mada, dan Kembalinya Logika Rimba Dunia

Catatan:Mas AHD sambil Ngemil Karedok dan segelas Teh manis ..!


Editorial Indonesia news
Dunia hari ini sedang bergerak mundur, bukan secara teknologi, tetapi secara watak kekuasaan. Konsensus global yang selama ini ditopang oleh hukum internasional, PBB, dan norma demokrasi perlahan kehilangan daya paksa. Di titik inilah figur seperti Donald Trump muncul, bukan sebagai penyebab, melainkan sebagai gejala.
Tulisan ini tidak bermaksud mengadili siapa pun. Donald Trump tidak diposisikan sebagai tokoh baik atau buruk, melainkan sebagai contoh ekstrem untuk membaca satu watak kepemimpinan: kepemimpinan dominan, berani mengambil risiko, dan tidak ragu menantang dunia. Dalam konteks ilmu, figur semacam ini selalu menarik karena ia membuka lapisan terdalam psikologi kekuasaan.
Untuk memahami fenomena ini secara jernih, perbandingan dengan figur Nusantara seperti Gajah Mada menjadi relevan. Bukan untuk menyamakan, tetapi untuk membaca pola: bagaimana kekuasaan dibangun, untuk apa dominasi digunakan, dan ke mana arah akhirnya.

1. Trump sebagai Gejala Runtuhnya Konsensus Global
Donald Trump menampilkan satu pesan sederhana namun keras: dunia bukan ruang moral, melainkan arena kompetisi. Bahasa politiknya tidak bertumpu pada etika global, tetapi pada logika menang–kalah. Dalam perspektif geopolitik, ini adalah tanda bahwa dunia sedang kembali ke logika rimba.
Trump tidak sedang membangun tatanan baru, tetapi mengguncang tatanan lama. Perjanjian internasional diperlakukan sebagai alat, bukan prinsip. Kedaulatan negara lain menjadi relatif ketika berhadapan dengan kepentingan nasional Amerika Serikat.
Dalam perspektif psikologi politik, ini adalah kepemimpinan berbasis tekanan, bukan konsensus. Stabilitas dicapai melalui rasa takut, bukan kepercayaan. Model ini efektif dalam jangka pendek, tetapi sangat berisiko dalam jangka panjang.
Jika watak seperti ini menjadi norma global, dunia akan masuk ke spiral perlombaan senjata, ketegangan permanen, dan konflik tanpa finalitas. Bukan karena pemimpinnya jahat, tetapi karena sistemnya kehilangan rem.

2. Gajah Mada dan Model Dominasi yang Berujung Integrasi
Gajah Mada hidup di dunia yang belum mengenal hukum internasional, HAM, dan kedaulatan setara. Ekspansi adalah keniscayaan sejarah. Ia menggunakan tekanan, pemaksaan, dan kekuatan militer untuk menundukkan wilayah-wilayah Nusantara yang menolak tunduk pada Majapahit.
Namun perbedaannya terletak pada tujuan akhir. Gajah Mada tidak membangun dominasi tanpa ujung. Kekerasan digunakan sebagai alat awal, bukan sebagai kondisi permanen. Setelah wilayah tunduk, ia diintegrasikan ke dalam satu sistem politik dan peradaban.
Dalam psikologi kekuasaan, ini disebut dominasi dengan finalitas. Ada visi, ada batas, dan ada fase pasca-ekspansi. Kekuasaan tidak terus-menerus dipertontonkan karena tujuannya bukan sekadar menekan, tetapi menyatukan.
Inilah pelajaran penting dari Nusantara: kekerasan tanpa arah melahirkan kekacauan, tetapi ketegasan yang terarah bisa melahirkan stabilitas. Gajah Mada bukan predator abadi, melainkan arsitek hegemoni regional.

3. Trump dalam Perspektif NLP, Psikologi, dan Hipnoterapi
Dalam perspektif NLP, Trump memiliki world model yang sangat jelas: dunia adalah arena kompetisi, kelembutan adalah kelemahan, dan kerja sama hanyalah transaksi sementara. Bahasa yang ia gunakan sederhana, repetitif, dan sugestif—efektif untuk memengaruhi alam bawah sadar massa.
Dari sisi psikologi, Trump menunjukkan kepercayaan diri yang reaktif. Ia sangat sensitif terhadap kritik dan penghinaan. Ini bukan ciri kepercayaan diri tenang, melainkan kepercayaan diri yang harus terus dibuktikan. Orang yang benar-benar kokoh tidak perlu terus menyerang.

Dalam hipnoterapi, pola seperti ini sering terkait dengan luka psikologis yang belum selesai. Dominasi bukan sekadar ambisi, tetapi mekanisme perlindungan diri. Menaklukkan dunia menjadi cara untuk memastikan diri tidak pernah merasa kecil atau terancam.
Trump bukan hanya menghipnosis publik, tetapi juga terhipnosis oleh narasi dirinya sendiri. Inilah yang membuat figur seperti ini sulit berhenti, sulit mengalah, dan sulit diam. Dalam konteks Stoikisme, Trump memiliki keberanian, tetapi tidak memiliki ketenangan batin.

Penutup
Dunia membutuhkan keberanian untuk bertahan, tetapi juga membutuhkan kendali agar tidak hancur oleh keberanian itu sendiri. Mental ala Trump penting sebagai alarm agar bangsa tidak menjadi lemah. Namun tanpa visi integratif ala Gajah Mada, mental ini berpotensi mengubah dunia menjadi rimba permanen.
Pelajaran terpentingnya sederhana: ambil nyalinya, bukan kerakusannya. Dunia membutuhkan pemimpin yang tegas, tetapi juga tahu kapan harus berhenti. Tanpa itu, kekuasaan hanya akan menjadi terapi psikologis para elite, dengan rakyat dunia sebagai korbannya.

Penulis:
Amin Hidayat.,MPd.,CMH.,CI.,
Praktisi Psikologi dan Hipnoterapi Politik Indonesia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × 1 =