Manusia 2026 Dan Ujian Zaman

 

Oleh: Nahdliyatul Malikah

Santri Pondok Pesantren Yanbuul Qur’an (2) Putri Muria Kudus

Menjelang 2026, dunia bergerak semakin cepat. Pertarungan politik dan ekonomi global kian terbuka. Negara-negara besar berlomba menguasai teknologi strategis, terutama kecerdasan buatan. AI tidak lagi sekadar alat bantu, tetapi telah menjadi kekuatan ekonomi dan politik yang menentukan arah dunia.

Perubahan global ini berdampak langsung ke banyak negara, termasuk Indonesia. Krisis energi dan pangan, ketegangan geopolitik, serta perang teknologi membuat persaingan semakin ketat. Di saat yang sama, mesin dan sistem digital mulai menggantikan banyak pekerjaan manusia. Dunia seolah berlari tanpa memberi waktu bagi manusia untuk berhenti dan berpikir.

Al-Qur’an telah mengingatkan bahwa perubahan semacam ini adalah hukum sejarah. “Dan masa itu Kami pergilirkan di antara manusia” (QS. Ali ‘Imran: 140). Tidak ada kekuatan yang abadi. Setiap zaman membawa ujian, dan manusia diuji oleh cara menyikapinya. Masalahnya, kemajuan hari ini sering diukur hanya dari kecepatan dan efisiensi.
Padahal Al-Qur’an juga mengingatkan, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia” (QS. Ar-Rum: 41). Kerusakan itu tidak selalu berbentuk bencana alam. Ia juga hadir dalam bentuk rusaknya orientasi hidup: kerja tanpa makna, kemajuan tanpa arah, dan manusia yang semakin jauh dari ketenangan batin.
Kondisi global ini terasa nyata di tingkat nasional. Indonesia menghadapi tekanan ekonomi dunia, perubahan pasar kerja, dan tantangan sosial yang semakin kompleks. Banyak orang merasa cemas dan kehilangan pegangan. Jika tidak disikapi dengan bijak, modernisasi justru bisa memperlebar jarak sosial dan melemahkan solidaritas.

Sejarah Nusantara memberi pelajaran penting. Para Wali Songo pernah hidup di masa perubahan besar. Sunan Kalijaga tidak menolak zaman, tetapi mengarahkannya. Budaya tidak dihancurkan, melainkan diberi makna baru. Sunan Kudus mengajarkan bahwa kemajuan perlu dibatasi oleh kebijaksanaan sosial. Tidak semua yang bisa dilakukan harus dilakukan.
Kearifan Jawa merangkum sikap ini dengan sederhana dan tegas: ojo kagetan, ojo gumunan, ojo dumeh. Jangan mudah terkejut oleh hal baru, jangan mudah silau oleh kekuatan, dan jangan merasa paling unggul. Petuah ini terasa semakin relevan di tengah euforia teknologi hari ini.

Imam Al-Ghazali, dalam Ihya’ Ulumuddin, telah lama mengingatkan bahwa kesibukan dunia yang berlebihan dapat mematikan hati. Manusia bisa terlihat sibuk dan produktif, tetapi kehilangan kejernihan dan arah hidup. Masalah terbesar manusia bukan kurangnya ilmu, melainkan hati yang tidak pernah merasa cukup. Modernisasi tanpa pengendalian batin hanya melahirkan kegelisahan.

Karena itu, menyambut 2026 tidak cukup hanya dengan kesiapan teknologi dan pertumbuhan ekonomi. Yang lebih penting adalah kesiapan karakter manusia. Setidaknya ada beberapa karakter kunci yang perlu diperkuat.
Pertama, kesadaran diri. Di tengah banjir informasi, manusia mudah hidup reaktif. Tanpa kesadaran, manusia akan digiring oleh algoritma, bukan oleh nilai.

Kedua, ketahanan batin. Persaingan yang keras menuntut daya tahan mental agar manusia tidak mudah putus asa, iri, atau terjebak kemarahan.
Ketiga, kerendahan hati intelektual. Semakin maju ilmu, semakin luas wilayah ketidaktahuan. Sikap ojo dumeh menjadi kunci agar manusia terus belajar dan mau dikoreksi.
Keempat, integritas. Di era manipulasi data dan citra, kejujuran menjadi modal paling berharga. Yang dicari bukan hanya yang pintar, tetapi yang bisa dipercaya.

Kelima, empati sosial. Modernisasi tidak boleh memutus kepedulian. Tanpa empati, pertumbuhan hanya akan melahirkan ketimpangan dan konflik.
Keenam, kemampuan memberi makna pada kerja. Ketika banyak pekerjaan berubah, manusia perlu memaknai kerja sebagai kontribusi dan martabat, bukan sekadar penghasilan.

Ketujuh, kesederhanaan. Di tengah kelimpahan, kesederhanaan menjaga kejernihan jiwa dan mencegah kegelisahan yang tidak perlu.
Dan yang paling mendasar, kesadaran moral dan spiritual. Mesin bisa meniru kecerdasan, tetapi tidak memiliki nurani. Manusia tetap menjadi subjek moral yang bertanggung jawab atas pilihannya.
Ujian zaman menuju 2026 bukan sekadar soal siapa yang paling cepat beradaptasi atau paling canggih teknologinya. Ujian sesungguhnya adalah apakah manusia mampu tetap manusia menjaga nilai, nurani, dan makna hidup di tengah perubahan besar.

Jika mesin menguasai kecepatan, maka biarlah manusia menjaga kebijaksanaan. Di situlah harapan kita menghadapi 2026, bukan sebagai korban zaman, tetapi sebagai manusia yang sadar, matang, dan bermartabat.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

twenty − 7 =