Donald Trump” Perspektif Stoic dan Psikologi Politik Global
Editorial Indonesia news
Saya tidak menulis untuk membela, dan tidak pula untuk menyerang. Saya menulis dengan berdiri di atas ilmu, menggunakan psikologi kepemimpinan dan Stoikisme klasik sebagai alat analisis. Donald Trump saya tempatkan sebagai fenomena psikologis global, bukan sebagai simbol politik.
Yang menarik dari Trump bukan sekadar kontroversinya, melainkan keteguhan sikapnya ketika berada di bawah tekanan dunia. Dalam psikologi kepemimpinan, keteguhan yang muncul berulang kali bukan kebetulan, melainkan cerminan struktur batin. Seseorang tidak mungkin konsisten dalam tekanan ekstrem tanpa fondasi psikologis yang kuat.
Dalam pendekatan Trade and Mental Architecture Model (TRAM), kepribadian dipahami sebagai bangunan mental yang membentuk cara seseorang menafsirkan realitas. Pada Trump, terlihat arsitektur mental yang sangat berpusat ke dalam dirinya sendiri. Ia mengandalkan kendali internal sebagai poros pengambilan keputusan.
Ego strength Trump tergolong tinggi. Dalam psikologi, ego bukan kesombongan, melainkan mekanisme pengatur realitas batin. Ego yang kuat memungkinkan seseorang tetap berdiri, bahkan ketika tekanan datang dari segala arah dan dukungan eksternal menyusut.
Pola ini menjelaskan mengapa tekanan internasional jarang mengubah arah sikap Trump. Ia tidak bergerak berdasarkan penerimaan global, melainkan berdasarkan keyakinan internal. Dalam banyak situasi, ia tampak lebih memilih kehilangan simpati daripada kehilangan kendali.
Dalam Neuro Linguistic Programming (NLP), pola ini dikenal sebagai internal reference system, yaitu kondisi ketika standar benar dan salah, sah atau tidak sah, ditentukan dari dalam diri. NLP mempelajari hubungan antara bahasa, pikiran, dan sistem saraf dalam membentuk perilaku serta keputusan.
Individu dengan referensi internal yang kuat cenderung kebal terhadap tekanan opini publik. Namun, pada saat yang sama, pola ini juga menyimpan risiko menutup diri dari koreksi yang sebenarnya relevan bila tidak disertai kesadaran reflektif.
Dalam kerangka Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM), saya tidak sedang melakukan diagnosis klinis. DSM saya gunakan sebagai peta struktur kepribadian, bukan sebagai alat pelabelan patologis. Pendekatan ini bertujuan membaca pola, bukan memberi stigma.
Yang tampak pada Trump adalah integrasi ego yang solid. Tidak terlihat disorganisasi psikologis, tetapi dominasi kontrol internal. Pola seperti ini lazim ditemukan pada figur pemimpin yang terbiasa hidup dalam situasi konflik dan tekanan tinggi.
Keteguhan Stoic dan Konsekuensi Psikologisnya
Stoikisme klasik, sebagaimana diajarkan Marcus Aurelius, menekankan kendali atas respons batin, bukan atas dunia luar. Keteguhan batin dipandang sebagai bentuk kebebasan tertinggi manusia, yakni kebebasan dari reaksi emosional yang tidak perlu.
Pada Trump, terlihat apa yang dapat disebut sebagai Stoic Armor, yaitu perlindungan batin yang tebal terhadap rasa takut, rasa malu, dan tekanan sosial. Ia jarang menampilkan keraguan di ruang publik, bahkan ketika tekanan datang secara terbuka dan berulang.
Namun Stoikisme tidak berhenti pada keteguhan. Ia juga menuntut refleksi yang jernih. Keteguhan tanpa refleksi berisiko berubah menjadi kekakuan mental yang menutup kemungkinan koreksi.
Dalam ilmu kepemimpinan, kondisi ini dikenal sebagai blind spot psikologis. Pemimpin menjadi terlalu kebal terhadap sinyal eksternal yang sebenarnya penting, bukan karena arogansi, melainkan karena sistem internal terlalu dominan.
Sikap keras terhadap Venezuela dan wacana keluar dari lembaga internasional seperti PBB saya tempatkan sebagai ilustrasi pola psikologis, bukan sebagai penilaian moral. Keputusan-keputusan tersebut mencerminkan orientasi kontrol internal yang ekstrem.
Secara psikologis, pola kepribadian cenderung konsisten lintas situasi. Jika arsitektur mentalnya tetap, responsnya pun relatif serupa, kecuali terdapat koreksi struktural yang kuat dan berfungsi efektif.
Check and Balance sebagai Penyeimbang Mental
Dalam psikologi politik modern, checks and balances tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme hukum. Ia juga bekerja sebagai penyeimbang psikologis bagi pemimpin dengan ego strength tinggi dan referensi internal yang dominan.
Parlemen, pengadilan, dan ruang publik memberikan koreksi berbasis prosedur dan data, bukan tekanan emosional. Bagi pemimpin dengan kendali internal kuat, koreksi rasional jauh lebih efektif daripada tekanan moral yang konfrontatif.
Tanpa mekanisme ini, keteguhan berisiko berubah menjadi isolasi mental. Pemimpin merasa semakin benar karena minim koreksi, padahal koreksi adalah bagian dari adaptasi yang sehat dalam kepemimpinan modern.
Dalam konteks ini, demokrasi berfungsi sebagai sistem kesehatan psikologis kolektif. Bukan untuk melemahkan pemimpin, tetapi menjaga keseimbangan antara kendali internal dan realitas eksternal yang terus berubah.
Trump menunjukkan bahwa kekuatan global tidak hanya ditentukan oleh militer dan ekonomi, tetapi juga oleh arsitektur psikologis pemimpinnya. Stoikisme mengajarkan keteguhan batin, sementara psikologi modern mengajarkan pentingnya keseimbangan struktur.
Penulis:
Amin Hidayat., MPd., CMH.,CI.,
Praktisi Hipnoterapi Indonesia
